- trending-title
- Kelelahan yang Tak Terlihat: Ketika Rasulullah Saw. Menyimpan Luka untuk Umatnya
Baharuddin Lopa adalah sosok lain dalam ikon
antikorupsi di Indonesia. Namanya santer disebut sebagai Jaksa Agung yang tegas
dan tak pandang bulu dalam penegakan hukum. Lopa juga sangat galak terhadap
setiap tindak tanduk yang menjurus ke korupsi. Lopa adalah Jaksa Agung Republik
Indonesia pada 6 Juni 2001 hingga meninggal dunia pada 3 Juli 2001.
Pernah suatu ketika, Lopa ingin membeli mobil
pribadi karena tidak mau menggunakan mobil dinas untuk kegiatan keseharian.
Lopa menghubungi Jusuf Kalla yang merupakan pengusaha otomotif dan menginginkan
sedan yang paling murah. Kalla pun membohongi Lopa dengan menawarkan Corolla
seharga Rp 5 juta. Padahal harga sesungguhnya Rp 27 juta. Karena tidak mau
membeli dengan harga teman tersebut, Lopa akhirnya membayar mobil tersebut
dengan harga asli. Mobil tersebut lunas setelah dicicil selama tiga tahun.
"Ya... boleh terima mobil darimu karena memang
tidak ada urusan apa pun. Tapi, suatu saat kau atau temanmu punya urusan
kemudian datang dan minta tolong. Saya tidak tegak lagi karena telah tersandera
oleh pemberianmu waktu itu," ungkap Lopa kepada Kalla di kemudian hari.
Baharuddin Lopa sangat anti terhadap suap. Lopa
sering menerima parsel ketika hari raya, tapi semua parsel yang dikirim ke
rumahnya selalu dikembalikan. Suatu kali, anak-anak Lopa mengambil cokelat
dalam parsel dan menutup kembali bungkus parsel tersebut. Namun hal ini
ternyata diketahui oleh Lopa.
"Jadi parsel itu mereka buka diambil
cokelatnya, kemudian saya cari bungkus cokelat itu di toko, kemasannya apa,
mereknya apa harus sama, saya masukkan kembali dan saya bungkus kembali parsel
itu lalu saya kembalikan," kata Lopa bercerita kepada seorang sahabatnya.
Mantan Ketua KPK Abraham Samad menganggap Lopa
adalah sosok yang sangat bersahaja dan sederhana. Sebagai seorang pejabat, Lopa
pun tidak memiliki harta melimpah sampai akhir hidupnya.
"Rumahnya di Makassar sangat sederhana sebagai
rumah seorang pejabat tinggi negara pada saat itu, dibandingkan dengan para
pejabat tinggi saat itu dan sekarang ini," tulis Abraham Samad dalam buku Apa dan Siapa Baharuddin Lopa (2012).