- trending-title
- Kelelahan yang Tak Terlihat: Ketika Rasulullah Saw. Menyimpan Luka untuk Umatnya
Tahun 2023 ini masyarakat indonesia sering dipertontonkan oleh galmornya para pejabat kementrian dan pejabat negara. Seperti pada kasus terbongkarnya harta kekayaan sala satu pejabat di kementrian keuangan yang memiliki harta sampai puluhan miliyar disaat kemiskinan di indonesia semakin meningkat . Kita kembali teringat betapa perjuangan para pejuangan kemerdekaan yang walaupun berpangkat menteri mereka tetap menjalani hidup dalam kesederhanaan bahkan mengusulkan gaji yang setara atau adil untuk para bawahannya . Beliau adalah Sjafruddin Prawiranegara yang pernah menjabat sebagai presiden sementara pemerintah darurat Republik Indonesia dan Meteri Keuangan Masa Presiden Soekarno.
Syafrudin
Prawiranegara juga pernah menjabat sebagai Wakil Perdana Menteri, Menteri
Keuangan, dan Menteri Kemakmuran. Dialah Menteri Keuangan yang pertama, dijabat
pada 1946, sedangkan menteri kemakmuran dijabat pada tahun 1947. Pada saat
menjabat sebagai menteri kemakmuran inilah terjadi Agresi Militer II dan
menyebabkan terbentuknya PDRI (Pemerintah Darurat RI).
Oleh Soekarno dan
Hatta, Syafruddin ditugaskan membentuk PDRI. Ketika Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Mohammad Hatta ditangkap pada Agresi Militer
II, kemudian diasingkan oleh Belanda ke Pulau Bangka, 1948, Syafruddin menjadi
Ketua Pemerintah Darurat RI pada 1948.
Cerita
kesederhanaan Sjafruddin muncul saat menjabat sebagai menkeu. Keadaan keuangan
negara sedang sulit sehingga para pegawai negeri sipil maupun militer tidak
digaji sebagaimana mestinya.
Seperti
dikutip dari biografi Sjafruddin Prawiranegara, Lebih Takut Kepada Allah SWT
karangan Ajip Rosidi terbitan Pustaka Jaya, keluarga Sjafruddin pun ikut
merasakan hidup susah meskipun menjabat sebagai menteri. Untuk mencukupi
kebutuhan sehari hari, Sjafruddin harus menjual barang-barang yang dimiliki.
Padahal yang mereka miliki hanya beberapa kopor pakaian karena harta benda lain
ditinggal di rumah sewaan di Bandung.
Rumah
itu dititipkan kepada seseorang yang kemudian menggelapkannya. Waktu anak ketiga lahir, yaitu
Chalid, keadaan keluarga begitu buruk sehingga untuk membuat gurita buat bayi,
mereka terpaksa menyobek kain sprei
kasur karena kain biasa tak ada lagi.
Istri Syafruddin prawira negara bahkan
harus berdagang sukun goreng untuk menghidupi ke 4 anaknya. Bahkan sampai
mendapat protes dari anak-anaknya
Saat berjualan sukun itu, ada protes "kecil"
dari Icah. "Kenapa kita tidak minta bantuan saja pada Presiden Om Karno
dan Wakil Presiden Om Hatta serta Om Hengky (Sri Sultan Hamangku Buwono
IX)," tanya Icah.
"Ayahmu
sering mengatakan kepada ibu agar kita jangan bergantung pada orang lain, Icah.
Kalau tidak penting sekali jangan pernah jangan pernah meminjam uang, jangan
pernah berutang," kata Lily.
"Tapi
apa ibu tidak malu? Ayah orang hebat, keluarga ayah dan ibu juga orang-orang
hebat," kata Icah.
"Iya,
sayang. Ibu mengerti, tapi dengarkan ya. Yang membuat kita boleh malu adalah
kalau kita melakukan hal-hal yang salah seperti mengambil milik orang lain yang
bukan hak kita, atau mengambil uang negara. Itu pencuri namanya. Orang-orang
mungkin tidak tahu, tapi Allah tahu," kata Lily, memberi penjelasan pada
anak sulungnya itu.
Saat
pemerintah RI pindah ke Yogyakarta, keluarga Sjafruddin ikut boyongan. Di
Yogya, mereka berpindah-pindah tempat hingga akhirnya menempati rumah yang
lebih besar di Jalan Taman Yuwono. Meskipun kedudukannya sebagai menteri
keuangan, tetapi dibandingkan kehidupan kala menjadi kepala inspeksi pajak di
Kediri, keadaannya jauh lebih sederhana.
Namun,
hal itu tidak pernah mengurangi pengabdian Sjafruddin kepada bangsa dan negara.
Tidak pernah ada dalam pikirannya untuk korupsi. Terlintas pun tidak.
Pada
masa Orde Baru, Sjafruddin pernah memberi saran agar pegawai negeri mendapat
nafkah yang cukup untuk menghindari suap dan korupsi. Namun dia dianggap
sebagai musuh politik yang sarannya tak perlu didengar. Orde Baru pun kemudian
menjadi kubangan raksasa praktik korupsi yang masih terus tampak hingga
sekarang, Orde Reformasi