- trending-title
- Kelelahan yang Tak Terlihat: Ketika Rasulullah Saw. Menyimpan Luka untuk Umatnya
Konon, menjadi polisi
sudah menjadi cita-cita masa kecil Hoegeng Iman Santoso. Itu antara lain karena
ia sangat terkesan oleh sosok Ating Natadikusumah yang kala itu menjabat Kepala
Jawatan Kepolisian Karesidenan Pekalongan. Di mata Hoegeng, Ating yang gagah,
suka menolong, dan banyak teman adalah sosok yang pantas dijadikan teladan.
Menariknya, saat
menapaki dunia pendidikan, Hoegeng justru mengambil jalur hukum. Selepas
bersekolah di Algemeene Middelbare School (AMS) Yogyakarta, ia malah
melanjutkan ke Rechtshogeschool (RHS) di Jakarta. Ini sangat mungkin karena
ayahnya, Sukario Hatmodjo, berkiprah di bidang hukum dan sempat menjadi Kepala
Kejaksaan Pekalongan.
Perpindahan
jalur yang dialami Hoegeng tak terlepas dari kedatangan Jepang pada 1942. Hoegeng
terpaksa harus pulang ke Pekalongan dan meninggalkan kuliahnya di RHS. Memasuki
1943, Hoegeng mengikuti pendidikan polisi Leeterling Hoofdagent Van Politie
(Pendidikan Ajun Inspektur Polisi).
Setelah itu, ia masuk Koto Keitsatsu Gakko
(Sekolah Tinggi Polisi) di Sukabumi pada 1944, mengikuti pendidikan di Provost
Marshall General School, AS, pada 1950, masuk Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian
(PTIK) pada 1952, dan mengikuti Pendidikan Brigade Mobil (Brimob) di Porong
pada 1959.
Kariernya dijalani
secara bertahap. Hoegeng pada awalnya menjadi agen polisi, lalu menjabat
Kapolsek Jomblang, Semarang, pada 1945. Selanjutnya, ia menjabat Kepala Dinas
Pengawasan Keamanan Negara (DPKN) Surabaya (1952–1955), Kepala Reskrim Sumatera
Utara (1955–1959), Deputi Operasi Menteri Muda Panglima Angkatan Kepolisian
(Menpangak) pada 1967–1968, hingga akhirnya diangkat sebagai Kepala Kepolisian
Republik Indonesia pada 1968– 1971.
Di samping di jalur kepolisian, Hoegeng yang meninggal di Jakarta pada 14 Juli
2004 juga sempat menjadi kepala Jawatan Imigrasi RI (1960–1965) dan Menteri
Iuran Negara RI (1966–1967).
1. Tutupnya Toko Kembang Kami
“Apa hubungannya toko kembang dengan jabatan kepala
jawatan imigrasi?”
Itulah protes yang dilontarkan Merry Roeslani, istri Jenderal Hoegeng Iman
Santoso yang lantas menjadi Kapolri, ketika diminta sang suami menutup toko
kembang milik mereka hanya satu hari jelang pelantikan sebagai kepala jawatan
imigrasi.
Ibu Merry tak habis pikir dengan permintaan suaminya itu
karena toko kembang tersebut adalah salah satu sumber penghasilan tambahan
mereka. Hoegeng menjawab tegas, “Nanti semua orang yang berurusan dengan
imigrasi akan memesan kembang pada toko kembang ibu, dan ini tidak adil untuk
toko-toko kembang lainnya.”
Rupa-rupanya, Hoegeng takut toko bunga itu
menjadi beban bagi dirinya dalam menjalankan tugasnya. Dia tak ingin
orang-orang membeli kembang di toko itu hanya karena melihat jabatan yang
diembannya.
Hoegeng Iman Santosa dan keluarganya mendapat
sebuah kejutan besar ketika diangkat sebagai Kepala Direktorat Reserse dan
Kriminal Polda Sumatera Utara pada 1956. Sempat berdiam di Hotel De Boer selama
beberapa waktu karena rumah dinas masih dihuni pejabat lama, Hoegeng terkejut
bukan kepalang saat tiba giliran menempati rumah itu. Rumah dinas itu dipenuhi
barang-barang mewah.
Hoegeng tak bisa menerima hal itu. Ia dan keluarganya berkeras tetap tinggal di
hotel jika barang-barang mewah itu masih ada di sana. Mereka baru akan pindah
bila rumah tersebut hanya diisi barang-barang inventaris kantor. Pada akhirnya,
Hoegeng dan keluarganya mengeluarkan semua barang mewah itu ke tepi jalan.
Bagi Hoegeng, keberadaan barang-barang mewah itu sangat mencurigakan. Pasalnya,
mereka belum mengenal siapa pun di tempat baru tersebut. Belakangan diketahui,
barangbarang itu berasal dari bandar judi yang hendak menyuapnya.