• trending-title
  • Kelelahan yang Tak Terlihat: Ketika Rasulullah Saw. Menyimpan Luka untuk Umatnya

Jarak 7 KM Tak Menurunkan Semangat Cinta Tanah Air Ibu Guru Sulistianingsih untuk Mencerdaskan Bangsa

 Seorang guru sejati akan tetap memberikan pendidikan yang berkualitas di tengah minimnya fasilitas.

Sebagian guru rela berkorban dengan berjalan kaki berkilo-kilo meter demi bisa memberikan ilmu bagi generasi mendatang.

Salah satu contohnya dilakukan oleh Sulistianingsih, guru wali kelas V, di SD Negeri Patemon 1, Kecamatan Jatibanteng.

Kecintaannya untuk mengajar 58 murid di sekolah itu, membuatnya rela setiap hari menempuh jalan puluhan kilometer dari rumahnya di Desa Sumber Kolak, Kecamatan Panarukan.

Tiap hari ia berangkat lebih awal. Agar bisa tiba di sekolah tempatnya mengajar, di kaki gunung dengan tepat waktu.

Dari rumahnya, ia mengendarai roda dua menempuh jarak sekitar 40 kilometer. Mungkin jalanan utama memang cukup enak dilalui, karena jalan raya lebar yang beraspal.

Namun tiba di Desa Wringin Anom, di sekitar kaki gunung, ia harus mengendarai motor dengan lebih hati-hati. Pasalnya, jalan menuju gunung hanya sebagian yang teraspal. Sementara sisanya berbatu dan menanjak.

Tiba di sekitar perbatasan desa, ia pun menitipkan kendaraan roda duanya pada wali murid. Karena, akses jalan yang setapak. Dan kerap kali rawan longsor.

Selanjutnya wanita yang sudah berstatus ASN itu, berjalan kaki sekitar 3,5 kilometer. Beruntung, ia tak berjalan sendiri. Melainkan bersama enam murid dan tiga guru lainnya.

“Jadi tiap hari ya 7 kilometer pulang pergi menuju tempat penitipan sepeda,” katanya disertai gelak tawa.

Ia mengaku bahwa di tasnya tak hanya berisi buku atau pun laporan lainnya. Namun juga kerap sedia mantel sebagai antisipasi manakala hujan.

Disinggung tentang longsor yang sering terjadi di jalan setapak, wanita akrab disapa Sulis ini mengaku pasrah. Karena, ia meyakini manakala hal baik dilakukan maka akan dilindungi.

“InsyaAllah lah, selama hal baik, hal positif. InsyaAllah akan dilindungi sama Allah,” urainya saat berjalan kaki bersama Riko, guru olahraga sekolah tersebut.

Ia mengaku tetap bersyukur kendati akses jalan sulit. Namun, murid-muridnya tetap semangat untuk belajar. Meskipun, tiap musim hujan tiba pemandangan murid mengenakan seragam yang tak sesuai dengan hari. Serta hanya mengenakan sandal jepit adalah hal yang biasa.

“Kalau musim hujan ya begini ini, itu murid saya pakai seragam pramuka kan sekarang Rabu. Pakai sandal jepit juga. Kemarin baju mereka basah karena hujan,” jelasnya.

Ia berharap adanya pelebaran akses jalan. Karena, memang untuk menjangkau ke lokasi sekolah medannya cukup ekstrim. Lebih-lebih saat musim hujan.

Sementara itu, Bupati Karna Suswandi berencana akan melakukan pelebaran akses jalan setapak penghubung dua desa. Yakni Desa Patemon dan Desa Wringin Anom, di Kecamatan Jatibanteng.

Jalan tersebut menjadi langganan longsor sejak lama. Lebih-lebih saat musim hujan.

Menurut Bung Karna, akses jalan tersebut tak masuk dalam jalan kabupaten. Namun, pihaknya tetap akan melakukan pelebaran jalan manakala masyarakat sekitar mau merelakan tanah atau lahannya untuk dibuat jalan.

Ia menyebut akan menindaklanjuti di PAK 2023 jika keuangan Pemkab Bondowoso bisa menjangkau untuk itu.

“Jika tidak, di APBD awal tahun 2024 harus sudah dikerjakan, InsyaAllah begitu,” pungkasnya.