- trending-title
- Kelelahan yang Tak Terlihat: Ketika Rasulullah Saw. Menyimpan Luka untuk Umatnya
Jenderal Soedirman adalah seorang
pahlawan nasional Indonesia yang memimpin Tentara Nasional Indonesia (TNI)
dalam perjuangan melawan penjajah Belanda pada masa Revolusi Nasional Indonesia.
Beliau terkenal karena semangat dan tekadnya yang kuat dalam memperjuangkan
kemerdekaan Indonesia.
Salah satu hal yang membuat Jenderal
Soedirman begitu istimewa adalah bahwa beliau berhasil bertahan hidup dan
berjuang dengan hanya satu paru-paru. Selama masa kepemimpinannya, beliau
didiagnosis menderita tuberkulosis, suatu penyakit yang menyerang paru-paru dan
dapat mematikan.
Diceritakan bila Letnan Jenderal
Soedirman berjalan tertatih-tatih memasuki rumah dinasnya di Jalan Bintaran
Wetan, Yogyakarta. Di depan pintu, sang istri, Siti Alfiah, menyambutnya. Bapak
pulang setelah dua pekan memimpin operasi penumpasan pemberontakan PKI,” kata
Muhammad Teguh Bambang Tjahjadi, putra bungsu Soedirman, yang mendapat cerita
itu dari ibunya.
Pada akhir September 1948, Soedirman
mengeluh ke Alfiah bila dia tak bisa tidur selama di Madiun. Soedirman begitu
terpukul menyaksikan pertumpahan darah di antara rakyat Indonesia itu.
Peristiwa Madiun membuat batin Panglima Besar Angkatan Perang Republik
Indonesia ini nelangsa. "Selain kelelahan berat, Bapak tertekan batinnya
karena peristiwa itu," ujar Teguh.
Malam itu, kondisi kesehatan
Soedirman turun. Namun, ia tetap mandi dengan air dingin. Saran sang istri agar
mandi air hangat tak ia indahkan. “Inilah awal petaka bagi Bapak,” kata Teguh.
"Esoknya, Bapak terkapar di tempat tidur.”
Kendati sakit, kegemarannya merokok
tetap tak bisa ia hilangkan. Sesekali, sembari terbaring, Soedirman mengisap
rokok kretek. Melihat itu, istrinya hanya diam, tak berani melarang.
Karena bandel, Soedirman tidak juga
pulih. Bahkan, tim dokter tentara mendiagnosis ia menderita tuberkulosis,
infeksi paru-paru. Tak percaya akan hasilnya, keluarga meminta pemeriksaan
ulang oleh dua dokter tentara senior, Asikin Wijayakusuma serta Sim Ki Ay. Dan
jawabannya sama dengan observasi pertama. Soedirman pun dibawa ke Rumah Sakit
Panti Rapih, Yogyakarta.
Menurut Soegiri, bekas ajudan
Soedirman, obat yang dibutuhkan atasannya hanya ada di Jakarta. Untuk sampai
Yogyakarta, obat itu harus diboyong melalui jalur penyelundupan. Di lain pihak,
Soedirman butuh penanganan cepat.
“Akhirnya tim dokter memutuskan
operasi penyelamatan dengan membuat satu paru-parunya tak berfungsi,” kata
Soegiri.
Pasca-operasi, menurut Soegiri, tim
dokter berbohong kepada Soedirman. Mereka mengatakan operasi itu cuma
mengangkat satu organ kecil di paru-paru yang menghambat saluran pernapasan.
Sedangkan kata Teguh, dokter memberitahukan ibunya perihal operasi itu.
"Sejak itu, Bapak bernapas dengan separuh paru-paru," katanya.
Meskipun kondisinya sangat buruk,
Soedirman tetap melanjutkan perjuangan dan memimpin TNI. Beliau bahkan mengatur
strategi militer dari tempat tidurnya yang terletak di dekat medan pertempuran.
Dalam sebuah kesaksian, salah satu perwira TNI mengatakan bahwa Soedirman
bahkan memerintahkan serangan-serangan terhadap pasukan Belanda sambil menahan
napas selama beberapa menit agar tidak batuk.
Meskipun beliau berjuang dengan
kondisi kesehatan yang buruk, Soedirman tetap memimpin TNI hingga berhasil
meraih kemenangan atas Belanda. Kemudian, beliau dianugerahi gelar Pahlawan
Nasional Indonesia pada tahun 1952.
Kisah Jenderal Soedirman yang
berjuang dengan satu paru-paru ini menjadi inspirasi bagi banyak orang dalam
memperjuangkan tujuan hidupnya. Beliau menunjukkan bahwa semangat dan tekad
yang kuat dapat mengalahkan segala rintangan, bahkan jika kondisi kesehatan
tidak mendukung.