- trending-title
- Kelelahan yang Tak Terlihat: Ketika Rasulullah Saw. Menyimpan Luka untuk Umatnya
Tidak ada kata menyerah. Setiap ada
keinginan pasti ada jalan. Filosofi itu tak jauh dari yang dirasakan Suparti
(55).
Ibu tiga anak mencoba peruntungan pasca berhenti jadi tenaga kerja Indonesia
(TKI) di Malaysia, tahun 2011. Dua tahun terakhir ia bisa sukses menggeluti
bisnis makanan ringan.
Awalnya, Suparti memulai usaha tahun 1975. Ketika itu, ia melakoni bisnis
konveksi di rumahnya di daerah Wonosari. Dia mengerjakan sendiri semua order
yang masuk.
Akan tetapi pada tahun 1999, saat Indonesia sedang diterpa badai krisis
moneter, bisnis Suparti oleng. Kondisi keuangan morat-marit. Hingga puncaknya,
bisnis konveksi gulung tikar.
Suparti kemudian memilih melakoni hidup dengan menjadi TKI Malaysia. Selama
sebelas tahun di Malaysia, ia rela menjadi pembantu rumah tangga.
Dari hasil kerja keras, ia mengumpulkan uang untuk kebutuhan rumah tangga.
Sisanya, ditabung dan membangun rumah dan memulai usaha.
Tahun 2011, Suparti pulang ke Indonesia. Dia sadar umur tidak muda lagi. Dia
bingung menentukan profesinya. Yang pasti ia tak lagi mengulangi bisnis
konveksi, takut gagal lagi.
Iapun lantas mengisi waktu kosong dengan berjualan kacang goreng. Modalnya
sekitar Rp 100 ribu. Ternyata, banyak yang peminatnya.
"Banyak yang suka dengan kacang goreng buatan saya," katanya.
Suparti lantas ingin mengembangkan bisnis kecil-kecilan itu. Ia lantas membuat
tiga macam rasa. Yakni, kacang rasa original, kacang telur, kacang rasa asam
manis.
Kacang buatan Suparti awalnya dikemas sangat sederhana. Yakni dengan
menggunakan plastik bening dan diikat menggunakan tali plastik. Produk itu
dibandrol harga Rp 1.000 per bungkus.
Pada 2012, Suparti diajak teman di kampungnya bergabung dengan Pahlawan Ekonomi
Surabaya. Ketika itu, Suparti merasa menemukan dunia baru. Ia juga bersyukur
karena berkenaan dengan banyak ibu-ibu yang memiliki semangat yang sama:
menjadi pengusaha.
Bekal pengetahuan Suparti pun bertambah. Ini setelah di Pahlawan Ekonomi dia
ikut berbagai pelatihan. Mulai pelatihan home industry, culinary business, dan
creative industry. Yang membuat Suparti terkesan, dia juga mendapat pengetahuan
tentang manajemen usaha.
"Dari dulu saya ingin punya manajemen yang baik karena saya ingin
menerapkan dalam usaha agar lebih profesional," ucap dia.
Tidak hanya ikut pelatihan, tapi juga bazar dan pamaran. Produknya yang
dijualnya laris manis. Di sela pemeran, rupanya kacang goreng buatan Suparti
mendapat perhatian Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini. Ketika itu, wali kota
mengeluhkan kemasan kacang kemasan kacang Suparti.
Tak lama kemudian, Suparti didatangi fasilitor Pahlawan Ekonomi. Dua diberitahu
kalau produk terpilih dalam tatarupa. Suparti awalnya tidah mengerti dengan
informasi tersebut. Ia baru tahu kalau Pahlawan Ekonomi akan membantu
membuatkan desain untuk produknya tersebut.
Mendengar itu, Suparti yang sekarang tinggal di kawasan Tanah Merah ini
menyambutnya. Kebetulah Pahlawan Ekonomi menggandeng Kreavi dan Asosiasi
Desainer Grafis Indonesia (ADGI) melakukan beberapa langkah strategis dengan
memperbaiki kemasan produk 10 UMK.
Lahirlah Kacang Tree G dengan kemasan baru dan menarik. Menggunakan karton
warna putih dengan ukuran lebih besar. Harganya dibanderol Rp 10.000 per 100
gramnya.
Suparti menuturkan nama Tree G diambil nama ketiga putranya, Galih Permana,
Ganda Pambudi, dan Gardika Putra Prasetya.
Kini, tiap hari Suparti dibantu dibantu empat orang pegawai mampu memproduksi
100 kilogram per hari. Menjelang bulan Ramadan dan Lebaran, dirinya mampu
memproduksi 500 kilogram perharinya. Saat ini Produk-produk Tree G sudah
tersebar di lima ratus warung kopi dan lima rumah makan ternama di Surabaya.
(ze/try)