• trending-title
  • Kelelahan yang Tak Terlihat: Ketika Rasulullah Saw. Menyimpan Luka untuk Umatnya

Abu hurairah - Ahli hadits yang haus ilmu,dermawan,dan penyayang Kucing

Abu Hurairah (RA) adalah seorang sahabat Rasulullah SAW yang terkenal dalam sejarah Islam. Nama aslinya adalah Abdul Rahman bin Sakhr, dan dia berasal dari suku Daws di Arab.

Ketika Abu Hurairah masih muda, dia meninggalkan keluarganya di Yaman dan datang ke Madinah untuk mencari penghidupan. Di sana, dia bertemu dengan Rasulullah SAW dan segera menjadi salah satu sahabat yang paling dekat dengannya.

Abu Hurairah dikenal sebagai seorang yang sangat tekun dalam menghafal hadis-hadis Nabi Muhammad SAW. Beberapa riwayat menyebutkan bahwa ia menghafal lebih dari 5000 hadis dari Nabi Muhammad SAW. Namun, jumlah yang pasti tidak dapat dipastikan karena tidak ada catatan resmi yang menyebutkan jumlah tepat hadis yang dihafal oleh Abu Hurairah.

Abu Hurairah sangat tekun dalam menghadiri pengajian dan menghafal semua hadis dan cerita yang diceritakan oleh Rasulullah SAW. Karena kemampuannya yang luar biasa untuk mengingat, ia diberi gelar "Hafizh al-Ummah" atau "Pemelihara Memorandum Umat".

Berikut beberapa kisah inspiratif dari Abu Hurairah :

Penyayang Kucing

Menurut cerita yang berkembang, Abu Hurairah memiliki seekor kucing yang sangat ia sayangi. Suatu hari, ketika ia bersama Nabi Muhammad SAW, kucingnya yang bernama Muezza turut hadir. Ketika Muezza tidur di pangkuan Abu Hurairah, tiba-tiba Nabi Muhammad SAW datang dan memanggilnya untuk pergi ke masjid. Abu Hurairah merasa ragu-ragu karena ia tidak ingin meninggalkan kucing kesayangannya sendiri. Namun, Nabi Muhammad SAW meminta agar kucing itu ditinggalkan, karena kucing akan kembali kepadanya.

Ketika Abu Hurairah kembali dari masjid, ia menemukan kucingnya masih tertidur di tempat yang sama. Kucing tersebut bangun dan melompat ke pangkuannya, seakan-akan tidak merasa kehilangan selama Abu Hurairah pergi ke masjid. Nabi Muhammad SAW yang melihat kejadian ini, memberikan julukan "Abu Hurairah" sebagai penghargaan atas kecintaannya terhadap kucing.

Kebiasaan Puasa Abu Hurairah

Salah satu kisah terkenal yang dikaitkan dengan Abu Hurairah adalah tentang kebiasaannya untuk berpuasa. Dia sering berpuasa seharian penuh tanpa makan atau minum, dan pada malam hari, ketika dia merasa lapar atau haus, dia akan memilih untuk memperpanjang shalat malamnya daripada makan atau minum.

Pada suatu hari, ketika Abu Hurairah sedang berpuasa dan sedang duduk di masjid, seorang lelaki datang dan menawarkan makanan kepadanya. Abu Hurairah menolak tawaran tersebut karena sedang berpuasa. Lelaki itu terus menawarkan makanan dan akhirnya Abu Hurairah menerimanya.

Setelah itu, Abu Hurairah pergi menemui Rasulullah SAW dan memberi tahu beliau tentang kejadian tersebut. Rasulullah SAW berkata, "Sesungguhnya Allah senang memaafkan hamba-hamba-Nya yang suka memaafkan orang lain." Dari saat itu, Abu Hurairah berjanji untuk selalu memaafkan orang lain dan menjadi orang yang pemaaf.

Abu Hurairah dan Kurma yang tak pernah habis

Menurut kisah, pada suatu hari Abu Hurairah lapar dan lelah setelah berjalan jauh dalam perjalanan. Dia masuk ke kebun seorang Yahudi dan melihat sekeranjang kurma yang tergeletak di sana. Abu Hurairah bertanya kepada pemilik kebun apakah dia bisa memakan kurma tersebut, tetapi pemilik kebun menolak permintaannya.

Abu Hurairah kemudian pergi ke tempat Rasulullah SAW dan menceritakan kisahnya. Rasulullah SAW memahami keadaannya dan bersama-sama dengan para sahabatnya, mereka pergi ke kebun tersebut. Rasulullah SAW meminta pemilik kebun agar memberikan Abu Hurairah sebagian dari kurma, tetapi pemilik kebun itu menolak.

Mendengar hal tersebut, Rasulullah SAW menawarkan untuk membeli seluruh kebun dengan harga yang pantas. Setelah transaksi selesai, Rasulullah SAW memberikan kebun tersebut kepada Abu Hurairah dan mengatakan, "Wahai Abu Hurairah, gunakanlah kebun ini untuk kebaikan, dan berikanlah sedekah darinya kepada orang-orang yang membutuhkan."

Abu Hurairah memenuhi saran Rasulullah SAW dan membagikan sebagian dari kurma yang ada di kebun kepada orang-orang miskin dan yang membutuhkan. Setiap kali Abu Hurairah memetik kurma dari pohon, selalu ada lagi kurma yang tumbuh kembali, sehingga pasokan kurma di kebun itu tak pernah habis.

Abu hurairah dan segelas susu

Dalam kisah tersebut, Abu Hurairah hidup dalam keadaan yang sangat miskin dan sering merasa lapar. Suatu hari, ia melihat seorang wanita memegang sepotong roti dan sebotol susu. Abu Hurairah merasa sangat lapar dan meminta kepada wanita itu untuk memberinya roti dan susu. Wanita itu bersedia memberikannya, tetapi Abu Hurairah merasa ragu-ragu karena ia tidak ingin merusak kesempatan untuk belajar dari Nabi Muhammad SAW.

Akhirnya, Abu Hurairah memilih untuk pergi ke masjid untuk mendengarkan ceramah Nabi Muhammad SAW daripada memakan roti dan susu. Setelah selesai mendengarkan ceramah, Abu Hurairah merasa sangat lelah dan lapar. Nabi Muhammad SAW melihat keadaan Abu Hurairah dan menanyakan apa yang terjadi. Abu Hurairah menceritakan kepadanya tentang roti dan susu yang ditawarkan oleh wanita tersebut, tetapi ia memilih untuk belajar dari Nabi Muhammad SAW daripada memakannya.

Nabi Muhammad SAW memuji keputusan Abu Hurairah dan berdoa agar Allah SWT memberkati dirinya. Kemudian, Nabi Muhammad SAW membawa Abu Hurairah ke rumah wanita tersebut untuk meminta maaf karena Abu Hurairah tidak memakan roti dan susu yang diberikannya. Ketika sampai di rumah wanita tersebut, Nabi Muhammad SAW menyadari bahwa wanita itu sebenarnya adalah janda yang sangat miskin dan anaknya yang masih kecil berada di sisinya.

Nabi Muhammad SAW meminta izin untuk mengambil anak tersebut dan membawanya ke masjid untuk diajarkan tentang agama Islam. Wanita itu menyetujui permintaan Nabi Muhammad SAW dan anaknya, yang diberi nama Abdullah, tumbuh menjadi seorang yang pandai dalam ilmu agama. Dalam kisah ini, Abu Hurairah belajar untuk mengejar ilmu bahkan ketika ia merasa lapar dan Allah SWT memberikan berkah kepada wanita miskin itu karena kebaikannya

 

Abu Hurairah juga terkenal sebagai seorang ahli dalam bidang zakat, sedekah, dan pemberian amal. Dia menghabiskan sebagian besar hartanya untuk membantu orang-orang miskin dan memperbaiki kondisi kehidupan mereka. Dia juga sangat menghormati orang tua dan selalu mematuhi perintah mereka.

Kisah Abu Hurairah memberikan pelajaran tentang tekad, ketekunan, dan kasih sayang terhadap sesama manusia. Dia adalah contoh yang baik tentang bagaimana menjadi seorang Muslim yang baik dan bermanfaat bagi masyarakat.

 

Abu Hurairah meninggal pada tahun 681 M pada usia 78 tahun. Ia meninggalkan warisan penting dalam bentuk hadis-hadis Nabi Muhammad SAW yang diajarkannya, dan kisah-kisah inspiratif tentang kehidupannya yang penuh ketekunan dan kasih sayang kepada sesama manusia.