- trending-title
- Kelelahan yang Tak Terlihat: Ketika Rasulullah Saw. Menyimpan Luka untuk Umatnya
Adab Selembar
Kertas
Kisah Ketundukan Imam Syafi’i di Hadapan Gurunya, Imam
Malik
Di kota Madinah yang diberkahi, yang tanahnya pernah
dijejaki Rasulullah ﷺ dan para sahabatnya,
berkumpullah para pencari ilmu dari berbagai penjuru negeri. Mereka datang
bukan hanya untuk menambah wawasan, tetapi untuk menyambung sanad keilmuan yang
bersambung hingga ke langit, dan menyerap keberkahan dari para pewaris Nabi.
Di antara mereka, hadir seorang pemuda yang masih
belia usianya, namun luas pemahamannya, tajam akalnya, dan dalam ketakwaannya.
Ia adalah Muhammad bin Idris, yang di kemudian hari dikenal sebagai Imam
Syafi’i, salah satu dari empat imam besar madzhab fikih yang fatwanya masih
hidup hingga hari ini.
Syafi’i muda memutuskan untuk duduk bersimpuh di
hadapan Imam Malik bin Anas, pemilik kitab Al-Muwaththa, sosok
ahli fikih dan hadits yang menjadi kiblat ilmu Madinah. Namun di balik semangat
belajarnya, ada satu hal yang paling menonjol dari sosok Imam Syafi’i: adabnya
yang luar biasa kepada guru.
Dalam suatu riwayat yang masyhur, sebagaimana tercatat
dalam Siyar A‘lam al-Nubala’ (8/81), Imam Syafi’i berkata:
"Aku membalik lembaran kitab di hadapan Imam
Malik dengan sangat pelan, karena aku tidak ingin mengganggu beliau dengan
suara kertas."
Satu kalimat, namun menyimpan samudra hikmah.
Bayangkan, seorang penuntut ilmu yang begitu
berhati-hati bahkan terhadap suara gesekan kertas, agar tidak sedikit
pun mengganggu ketenangan gurunya. Di tengah keheningan majelis, ia membalik
lembar demi lembar dengan sangat lembut. Bukan karena takut dimarahi, tetapi
karena hormat. Karena rasa malu dan cinta terhadap gurunya yang
menjadi wasilah ilmu.
Inilah hakikat adab batin—adab yang lahir dari
kedalaman hati. Ia tidak terlihat mencolok, tidak ditampakkan dengan pujian
atau sorakan, tapi hadir dalam gerakan kecil yang dilakukan dengan penuh rasa.
Selembar kertas, yang bagi sebagian orang tak berarti apa-apa, menjadi cermin
bagi kita tentang bagaimana Imam Syafi’i menjaga ketenangan suasana belajar.
Dalam gerakan sunyi itu, terdapat cahaya akhlak dan kesadaran spiritual yang
tinggi.
Padahal, Imam Syafi’i bukan murid biasa. Ia dikenal
dengan hafalan yang luar biasa kuat. Dikatakan bahwa jika ia membaca sekali, ia
bisa mengingatnya. Otaknya brilian, argumennya tajam, dan daya analisanya jauh
melampaui usia. Namun keunggulan itu tidak membuatnya tinggi hati. Justru ia
hadir di hadapan Imam Malik dengan penuh ketundukan dan penghormatan,
seperti seorang fakir yang mengetuk pintu harta karun.
Adab seperti inilah yang menjadikan ilmunya berkah
dan menembus zaman. Banyak orang yang cerdas, tetapi tidak banyak yang
ilmunya bertahan lebih dari seribu tahun. Banyak yang pintar, tapi tidak semua
dikenang karena akhlaknya. Keberkahan ilmu bukan terletak pada jumlah catatan
yang dikumpulkan, tapi pada bagaimana ilmu itu dicari, diserap, dan dijaga
dengan penuh adab.
Hari ini, ketika proses belajar kadang hanya sebatas
menonton video atau membaca cepat, ketika guru kadang hanya dianggap
fasilitator informasi, kisah ini menyadarkan kita:
Bahwa ilmu bukan sekadar data, tapi cahaya. Dan adab adalah lentera yang
membuat cahaya itu menyala di dalam hati.
Kita mungkin tidak lagi duduk di majelis Imam Malik,
atau bersanding langsung dengan Imam Syafi’i. Tapi semangat mereka tetap bisa
kita warisi—melalui adab kita kepada guru, kepada buku, kepada tempat belajar,
dan kepada ilmu itu sendiri.
Jika Imam Syafi’i menjaga suara lembaran kertas, maka
kita pun bisa menjaga lisan kita dari menyela, menjaga mata kita dari melirik
malas, menjaga hati kita dari sombong terhadap yang menyampaikan. Karena adab
adalah ruh yang menghidupkan ilmu.
Dan ketika ilmu hidup, maka hidup pula hati. Maka
barokah pun datang. Maka Allah pun ridha.
Penutup renungan:
“Barangsiapa yang menjaga adab, Allah akan tinggikan derajatnya
sebelum ilmu menyempurnakannya.”
(Kata bijak ulama salaf)