- trending-title
- Kelelahan yang Tak Terlihat: Ketika Rasulullah Saw. Menyimpan Luka untuk Umatnya
Ihsan merupakan pilar penting dalam
bangunan agama Islam selain pilar iman dan islam. Ihsan tidak dapat dipisahkan
dari iman dan islam. Ketiganya merupakan satu kesatuan yang tidak boleh
ditinggal salah satunya sebagai kesempurnaan keberislaman seseorang.
Ihsan berikut turunan katanya sering kali ditemukan pada Al-Qur’an dan hadits
yang menunjukkan urgensinya. Ihsan yang berarti perbuatan baik merupakan
pembuktian atas keimanan dan keislaman seseorang. Ihsan secara harfiah berarti
kebaikan sebagai perilaku, bukan sekadar pengetahuan tentang kebaikan sebagai
etika. Ihsan dapat menjadi alternatif di tengah krisis akhlak di mana kebaikan
hanya berhenti pada level pengetahuan atau jargon, tidak sampai pada tindakan
atau aksi nyata. Sedangkan kita sering menyaksikan pelanggaran hukum dilakukan
oleh orang yang telah 'mengerti' ketentuan dan peraturan.
Pada kesempatan ini kami akan mengutip satu ayat Al-Qur’an dan beberapa hadits
untuk menggambarkan ihsan secara umum. Kami juga akan menghimpun ragam
pandangan ulama perihal ihsan dan hubungannya dengan iman dan islam.
Pada Surat An-Nahl ayat 90, kita menemukan perintah Allah kepada umat manusia
untuk berbuat adil, berbuat baik (ihsan), mengulurkan bantuan untuk kerabat.
Melalui pintu masuk Surat An-Nahl ayat 90 ini, kita coba menggali kandungan makna
kata 'al-ihsan' dari sejumlah ulama tafsir.
Al-Baidhawi mengartikan ihsan pada Surat
An-Nahl ayat 90 sebagai bentuk ketaatan kepada Allah baik secara kuantitas
seperti ibadah sunnah maupun coraknya. Ulama lain memaknainya sebagai
perbuatan baik kepada orang lain. Oleh sebagian ulama, ihsan diartikan sebagai
kelapangan hati dalam memaafkan orang lain. Ada ulama seperti Jalaluddin
As-Suyuthi memaknai ihsan sebagai pelaksanaan kewajiban-kewajiban.
Adapun Ibnu Katsir dalam karya tafsirnya
mengatakan, ihsan mencakup kebaikan sesuatu secara substansi baik yang
berkaitan dengan akidah, ibadah, maupun lainnya sebagaimana kebaikan seorang
Muslim terhadap orang lain. Ihsan mengandung makna lebih luas dari
sekadar adil karena adil berarti memenuhi hak kepada pemiliknya tanpa melewati
batas atau menguranginya. Sedangkan kandungan makna ihsan mencakup pengertian
kelapangan hati memaafkan orang yang telah berbuat jahat, menginisiasi hubungan
dengan orang yang memutuskannya, dan juga memberikan sesuatu kepada orang yang
enggan berbagi dengannya.
Sayyid Thanthawi mengatakan, objek kata
'ihsan' pada Surat An-Nahl ayat 90 tidak disebutkan untuk memberikan efek
keumuman sasaran dan bentuk dari perbuatan ihsan itu sendiri. Perbuatan baik
atau ihsan dilaksanakan dalam bentuk perbuatan maupun ucapan dan ditujukan
kepada manusia, hewan, dan ciptaan lainnya. Satu kesatuan iman, Islam,
dan ihsan akan tampak pada hadits riwayat Imam Bukhari dan Muslim yang
menyebutkan riwayat Jibril yang menjelaskan ihsan selain iman dan islam kepada
Rasulullah. "Ihsan adalah menyembah Allah seolah kau melihat-Nya.
Tetapi kalaupun kau tidak melihat-Nya, niscaya Dia tetap mengawasimu."
Rasulullah pada suatu kesempatan menyebut kaitan erat ihsan dan iman.
"Orang beriman yang paling sempurna keimanannya adalah mereka yang paling
baik akhlaknya (ihsan)," (HR Abu Dawud, At-Tirmidzi, Ahmad, Al-Baihaqi,
dan Ad-Darimi).
Al-Munawi menjelaskan tempat penting
ihsan sebagai perwujudan keimanan karena agama Islam berdiri di atas pilar
ihsan dan kemurahan hati. Tanpa keduanya, keberislaman seseorang tidak akan
bernilai baik. Nilai sempurna dan cacat keimanan seseorang bergantung pada
kebaikan budi pekertinya. Dengan demikian, orang yang berkahlak buruk adalah
orang yang kurang imannya.
Kaitan ihsan dan keimanan diangkat
kembali oleh Rasulullah pada riwayat Ibnu Majah dan At-Thabarani, "Orang
beriman yang paling utama (paling tinggi derajatnya, kata Al-Munawi) adalah
mereka yang paling baik akhlaknya," karena Allah menyukai perilaku
yang baik sebagaimana tertera pada banyak kitab hadits. Adapun husnul khuluq
atau perilaku yang dimaksud, kata Al-Munawi, adalah perilaku baik kita terhadap
sesama Muslim, demikian juga terhadap non-Muslim, dan orang-orang durjana
sekalipun. Kedudukan ihsan dalam trilogi iman, Islam, dan ihsan tidak
dapat dipisahkan.
Rasulullah berpesan kepada Mu‘adz,
"Hendaklah kamu bertakwa kepada Allah di mana saja berada. Iringi
perbuatan buruk dengan perbuatan baik, niscaya itu dapat menghapusnya.
Interaksilah dengan orang lain dengan akhlak yang baik." (HR Abu Dawud,
At-Tirmidzi, Ahmad, dan Al-Hakim) Rasulullah SAW pada kesempatan lain
mengatakan, "Orang pilihan di antara kalian adalah mereka yang baik
akhlaknya," (HR Bukhari, Muslim, dan At-Tirmidzi).
Hadits ini, kata An-Nawawi, menganjurkan
dan menyatakan keutamaan perilaku baik yang merupakan sifat para nabi dan para
wali Allah. Bagi Al-Hasan Al-Bashri, kebaikan perilaku merupakan pengerahan
pikiran untuk berbuat baik, menahan diri dari tindakan menyakiti orang lain,
dan menampilkan wajah ceria di hadapan orang lain. Ihsan atau perilaku
yang baik sebagai wujud keimanan oleh Al-Qadhi Iyadh diartikan sebagai
interaksi dengan orang lain dengan cara yang baik, gembira, semangat
persaudaraan, kasih sayang, kesantunan, menanggung risiko kerugian atas
interaksi, tidak sombong, tidak mencemari kehormatan orang lain, menjauhi
kebengisan, kemarahan, dan pembalasan terhadap orang lain. Karena keterkaitan
erat iman, islam, dan ihsan, Rasulullah bersabda sebagaimana riwayat Al-Askari
dan Al-Khatib dan sahabat Anas RA, "Perilaku yang baik adalah separuh dari
isi agama ini." Bahkan pada riwayat Ad-Dailami dari sahabat Abu Sa’id RA,
Rasulullah SAW bersabda, "Agama Islam itu sendiri sepenuhnya akhlak yang
baik."
Pengertian serupa dapat ditemukan
pada pesan terakhir Rasulullah SAW saat Haji Wada‘ berikut ini, "Orang
yang beriman (Mukmin) adalah orang baik yang mana keselamatan jiwa dan harta
banyak orang terjaga dari kejahatannya." (HR At-Tirmidzi, An-Nasai, Ibnu
Majah, Ahmad, Al-Hakim, At-Thabarani, Ibnu Hibban, Al-Baihaqi).
Al-Munawi mengatakan, Mukmin yang sempurna adalah orang baik yang integritasnya
sudah teruji dan terbukti di tengah masyarakat sehingga ia dipercaya oleh
masyarakat sebagai orang yang berakhlak baik. Al-Mubarakfuri menambahkan, keimanan
memiliki akar kata yang sama dengan keamanan dan kepercayaan sehingga orang
beriman tidak pernah memiliki riwayat sejarah yang mencederai kepercayaan orang
lain melalui pengkhianatan. Dengan kata lain, orang yang tidak mematuhi
hukum Allah dalam menjamin keselamatan dan menahan untuk tidak menyakiti orang
lain adalah orang yangtidak sempurna keberislamannya. Orang yang tidak memiliki
semangat untuk mematuhi ketentuan Allah dan menjaga hak-hak orang lain
sejatinya tidak menjaga hubungannya dengan Allah sehingga keimanannya juga
terbilang cacat.
Pada kesempatan lain, Al-Mubarakfuri
mengatakan, orang mukmin adalah orang baik yang teruji dan terbukti dipercaya
oleh masyarakat. Ia dikenal lama menjaga hak dan kepercayaan orang lain. Orang
mukmin yang sempurna adalah orang baik yang tampak integritas, keamanahan, dan
kejujurannya sehingga masyarakat tidak mengkhawatirkan harta, kehormatan, dan
jiwa mereka dari kejahatannya. Rasulullah SAW secara lugas ingin
mengatakan, kesempurnaan keimanan seseorang tidak dapat terbukti tanpa
perbuatan baik. Tanpa perbuatan baik, seseorang tidak dapat mencapai derajat
kesempurnaan keimanan. Kesempurnaan keimanan tidak dapat diraih tanpa akhlak.
Sedangkan akhlak adalah manifestasi dan bukti keimanan, bukan sekadar etika
yang berisi pengetahuan akan baik dan buruk. (Alhafiz Kurniawan)