• trending-title
  • Kelelahan yang Tak Terlihat: Ketika Rasulullah Saw. Menyimpan Luka untuk Umatnya

Asma’ binti Abu Bakar: Mengantarkan Makanan di Tengah Bahaya

Malam itu begitu sunyi. Angin berhembus pelan, membawa hawa ketegangan yang memenuhi kota Mekah. Suasana mencekam setelah kaum Quraisy mengetahui bahwa Rasulullah dan Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu telah meninggalkan Mekah. Mereka marah dan mengerahkan seluruh kekuatan untuk menangkap Rasulullah .

Di tengah ancaman itu, seorang wanita muda yang tengah hamil tua, Asma’ binti Abu Bakar, dengan penuh keberanian memikul tugas yang sangat berisiko—mengantarkan makanan untuk Rasulullah dan ayahnya yang bersembunyi di Gua Tsur.

Perjalanan Penuh Bahaya

Dengan hati-hati, Asma’ menyembunyikan makanan dalam kantung besar. Ia tahu bahwa perjalanan ini tidak akan mudah. Gua Tsur terletak di atas bukit yang curam, dan perjalanan menuju ke sana penuh bahaya.

Di tengah malam, dalam kondisi perut yang semakin membesar karena kehamilannya, Asma’ melangkah perlahan-lahan melewati gang-gang kota Mekah. Ia menghindari para penjaga Quraisy yang sedang berpatroli. Jika ketahuan, nyawanya bisa terancam.

Namun, semangatnya tak goyah. Ia tahu bahwa Rasulullah dan ayahnya membutuhkan makanan untuk bertahan hidup selama masa persembunyian. Setiap langkah yang ia ambil adalah bukti cinta dan pengorbanannya untuk Islam.

Tiba di Gua Tsur

Setelah berjalan jauh dan menanjaki bukit yang terjal, akhirnya Asma’ tiba di Gua Tsur. Dengan hati-hati, ia memanggil Rasulullah dan Abu Bakar. Mereka segera keluar dan menyambutnya dengan penuh haru.

Asma’ menyerahkan makanan yang ia bawa. Rasulullah tersenyum penuh syukur, sementara Abu Bakar menatap putrinya dengan bangga. Keberanian Asma’ telah menjadi bagian penting dalam kelangsungan perjalanan hijrah.

Namun, ada satu masalah. Asma’ lupa membawa tali untuk mengikat makanan dan air yang akan dibawa ke dalam gua. Tanpa berpikir panjang, ia segera merobek ikat pinggangnya, membaginya menjadi dua bagian—satu untuk mengikat makanan dan satu lagi untuk tetap ia kenakan.

Melihat tindakan itu, Rasulullah pun bersabda,

"Allah telah menggantikan untukmu ikat pinggang ini dengan dua ikat pinggang di surga."

Sejak saat itu, Asma’ dikenal dengan julukan "Dzatun Nithaqain" (Wanita yang Memiliki Dua Ikat Pinggang).

Diancam Abu Jahal

Setelah menyelesaikan tugasnya, Asma’ turun dari bukit dengan hati-hati. Namun, ketika ia kembali ke rumah, ia dikejutkan dengan kedatangan Abu Jahal, musuh bebuyutan Rasulullah .

Abu Jahal dengan penuh kemarahan bertanya, "Di mana ayahmu, Abu Bakar?"

Asma’ tidak gentar. Dengan suara tenang tetapi penuh ketegasan, ia menjawab, "Aku tidak tahu di mana ayahku."

Jawaban itu membuat Abu Jahal murka. Dengan kasar, ia menampar wajah Asma’ begitu keras hingga darah mengalir dari bibirnya. Namun, Asma’ tetap teguh. Ia tidak akan pernah mengkhianati perjuangan Rasulullah dan ayahnya.

Warisan Keberanian

Asma’ binti Abu Bakar telah menunjukkan bahwa pengorbanan di jalan Allah tidak mengenal kondisi dan keterbatasan. Meskipun dalam kondisi hamil tua, ia tetap menjalankan tugasnya demi Islam.

Keberaniannya diwarisi oleh anaknya, Abdullah bin Zubair, yang kelak menjadi salah satu pejuang besar Islam. Bahkan hingga usia senja, Asma’ tetap teguh dalam keimanan dan tidak gentar menghadapi kezaliman.

Semoga Allah menjadikan kita semua memiliki keberanian dan keteguhan hati seperti Asma’ binti Abu Bakar, sang pemilik dua ikat pinggang. Aamiin.