- trending-title
- Kelelahan yang Tak Terlihat: Ketika Rasulullah Saw. Menyimpan Luka untuk Umatnya
Pandemi masih terus menyelimuti, dukacita menjadi hari-hari yang merundungi.
Rasanya getir dan khawatir apabila melihat situasi hari ini.
Namun, tentu sebagai seorang Muslim,
pada kondisi apa pun, menebar kebaikan jangan berhenti. Sebaik-baiknya manusia
adalah yang bermanfaat kepada yang lainnya.
Diberikan situasi apa pun harus siap
sedia. Mendapat kemudahan menjadikan diri sebagai pribadi bersyukur. Diberikan
kesusahan, sabar dan tawakal sebagai sikap mental. Jiwa ini harus terus
disucikan agar ridha dengan segala ketetapan dari Allah yang Maha Rahman.
Hanya, rasanya ironi, masih banyak
yang culas dan mengambil untung di atas derita saudara. Maka beruntunglah
manusia yang menjaga dirinya dari kejahatan, padahal boleh jadi berpeluang,
bahkan tetap peduli sesama.
قَدۡ أَفۡلَحَ مَن زَكَّىٰهَا ٩ وَقَدۡ خَابَ مَن دَسَّىٰهَا ١٠
“Maka
Dia mengilhamkan kepadanya (jalan) kejahatan dan ketakwaan. Sungguh beruntung
orang yang menyucikan jiwa itu. Dan sungguh rugi orang yang mengotorinya.” (QS
asy-Syams: 8-10).
Menyucikan jiwa
dapat dilakukan dengan beberapa cara:
Pertama, bertobat
sungguh-sungguh, tidak mengulangi kesalahan yang sama. Diriwayatkan dari Abu
Hurairah RA dari Nabi Muhammad SAW, beliau bersabda: “Seorang mukmin tidak
boleh tersengat dua kali dalam satu lubang.”
(HR Muslim).
Kedua, berzikir tanpa sekali pun
lalai pada-Nya. Bacalah kalimah zikir, asmaul husna, dan Alquran setiap hari.
Pelajari maknanya, temukan petunjuk dari sumber ajaran. Bacalah kitab-kitab
tafsir untuk memahami lebih jelas kandungan ayat per ayat dan kaitannya. Jangan
sungkan untuk bertanya kepada para ahli agar tak tersesat pemahaman diri.
Alquran adalah obat, nasihat dan penerangan, petunjuk dan pembeda antara
kebenaran dan kebatilan.
Ketiga, zikir dan pikir
diseimbangkan. Caranya dengan mengisi hari-hari dengan belajar ilmu
pengetahuan. Jika ayat qauliyah telah dibaca, pelajarilah ayat kauniyah.
Alam semesta adalah tanda, petunjuk
bagi mereka yang berpikir. Mengkaji alam semesta dan para pengisinya hanya
dapat dilakukan oleh ilmu pengetahuan, unsur utama kekuatan peradaban. Ayat
qauliah dan kauniyah bersumber dari Allah Maha Mengetahui, sumber kebenaran.
Keempat, manusia tempatnya salah dan
lupa. Berkumpul dengan orang baik dan para ulama akan selalu mengarahkan agar
tetap berada dalam kebaikan. Ilmu bertambah, iman menguat, amal saleh semakin
meluas, menebar manfaat.
Perbanyak merenungi diri, tentang apa
yang telah diperbuat. Lupakan kebaikan, ingatlah keburukan dan jangan tunda
untuk memohon ampunan.
Kelima, memintalah selalu kepada-Nya
untuk diberikan petunjuk berada di jalan yang diridhai. Diriwayatkan dari Abu
Hurairah RA, beberapa orang sahabat Nabi Muhammad SAW datang lalu bertanya
kepada beliau, “Sesungguhnya kadang-kadang tersirat suara dalam hati kami suatu
hal yang berat untuk kami katakan.”
Beliau bertanya, “Apakah hal demikian
sudah terjadi padamu?” Mereka menjawab, “Ya.” Beliau bersabda,” Itulah pertanda
iman yang sebenarnya.” (HR Muslim).