- trending-title
- Kelelahan yang Tak Terlihat: Ketika Rasulullah Saw. Menyimpan Luka untuk Umatnya
Keprihatinan mendalam dirasakan Rasulullah SAW yang ingin mengislamkan pamannya, Abu Thalib bin
Abdul Muthalib. Namun, Allah SWT tak memberikan hidayah kepada pamannya itu.
إِنَّكَ لَا تَهۡدِي مَنۡ أَحۡبَبۡتَ
وَلَٰكِنَّ ٱللَّهَ يَهۡدِي مَن يَشَآءُۚ وَهُوَ أَعۡلَمُ بِٱلۡمُهۡتَدِينَ ٥٦
Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu
kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan
Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk." (QS al-Qashshash: 56).
Abu Thalib
adalah seorang pembela dan pendukung perjuangan Nabi Muhammad SAW dalam
menyebarkan Islam. Kala itu, kaum Quraisy merasa terancam ketika Nabi SAW
mendakwahkan ajaran Islam dan mereka berharap kepada Abu Thalib untuk
menghentikan keponakannya itu agar tidak menyebarluaskan agama Islam.
Meskipun
tekanan dan teror terus datang dari kaum Quraisy, Abu Thalib tetap
mempertahankan dukungannya terhadap Nabi SAW dalam menyebarkan dakwah
Islam.
Sayangnya,
meski berstatus sebagai paman yang membesarkan dan membela Nabi SAW, Abu Thalib
hingga akhir hayatnya tidak mengimani ajaran Islam yang disampaikan Nabi SAW,
keponakannya sendiri. Nabi SAW pun pernah berdoa:
لَعَلَّهُ
تَنْفَعُهُ شَفَاعَتِي يَوْمَ الْقِيَامَة فَيُجْعَلُ فِي ضَحْضَاحٍ مِنْ نَارٍ يَبْلُغُ
كَعْبَيْهِ يَغْلِي مِنْهُ دِمَاغُهُ
"Semoga
syafaatku bermanfaat baginya kelak di hari kiamat. Karena itu, dia ditempatkan
di neraka yang paling dangkal, api neraka mencapai mata kakinya lantaran itu
otaknya mendidih." (HR Bukhari dan Muslim).
Namun, hidayah
merupakan hak prerogatif Allah yang hanya diberikan kepada manusia yang
dikehendaki-Nya. Bersyukurlah kita yang meski hidup jauh dari zaman Nabi SAW
dan para sahabatnya, kita diberi nikmat berupa hidayah untuk mengimani Allah
dan Rasul-Nya. Hal ini merupakan atas kehendak dan ridha Allah SWT.
Tidakkah kita
melihat perjuangan Nabi Nuh AS yang berdakwah sekian lama demi mengajak umatnya
beriman kepada Allah? Namun, hingga usianya hampir seribu tahun (950 tahun),
hanya sedikit kaumnya yang beriman kepada Allah SWT. Bahkan, anak dan istri
yang disayanginya juga tidak mengindahkan seruan Nabi Nuh AS untuk beriman
kepada Allah SWT.
Kisah lainnya
seperti yang dialami oleh Nabi Ibrahim AS. Hidup di tengah-tengah orang yang
menyembah berhala dan menyekutukan Allah SWT, Nabi Ibrahim AS yang kokoh
mengimani Allah SWT tak mampu mengajak orang tuanya untuk mengikuti ajaran yang
dibawanya.
وَكَذَٰلِكَ
نُرِيٓ إِبۡرَٰهِيمَ مَلَكُوتَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ وَلِيَكُونَ مِنَ
ٱلۡمُوقِنِينَ ٧٥
"Dan
demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan yang ada di
langit dan di bumi agar dia termasuk orang-orang yang yakin." (QS
al-An’am: 75).
Dengan
menyadari bahwa kita yang bukan siapa-siapa ini diberikan hidayah oleh Allah
untuk mengenal keagungan-Nya, maka sudah selayaknya kita banyak bersyukur atas
hal tersebut. Selain itu, kita juga harus terus menjalankan segala perintah-Nya
dan menjauhi semua yang dilarang-Nya agar nikmat keimanan itu tak lepas dari
badan.
Betapa sengsara
dan celakanya bila Allah telah mencabut hidayah itu dari diri kita sebagaimana
Allah mencabut hidayah-Nya dari orang-orang yang suka berbuat durhaka dan
aniaya. Hidayah itu begitu mahal karena ia akan mengantarkan seseorang pada
kasih sayang Allah dan surganya.
وَٱللَّهُ
يَهۡدِي مَن يَشَآءُ إِلَىٰ صِرَٰطٖ مُّسۡتَقِيمٍ ٢١٣
"…Dan
Allah selalu memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan
yang lurus." (QS al-Baqarah [2]: 213). n