- trending-title
- Kelelahan yang Tak Terlihat: Ketika Rasulullah Saw. Menyimpan Luka untuk Umatnya
Para sahabat selalu menjadi bintang
dan tauladan terbaik bagi umat setelah nabi shallallahu ‘alaihi
wasallam. Salah seorang yang memiliki peran penting dalam islam adalah
sahabat Abu Hurairah radhiyallahu anhu karena beliau adalah diantara
orang-orang yang paling banyak meriwayatkan hadits Nabi shallallahu
‘alaihi wasallam.
Ibnu Katsir berkata, “Ada
perselisihan pendapat tentang nama beliau dan ayah beliau di zaman jahiliyah
dan zaman Islam, yang masyhur adalah bahwasanya nama beliau adalah Abdurrahman
bin Shakhr yang berasal dari suku Azd kemudian dari Daus. Kemudian Nabi
memberinya nama Abdurrahman dan kunyahnya adalah Abu Hurairah.” (Al-Bidayah wan
Nihayah, 8/103)
Beliau datang ke Madinah dan masuk
islam di permulaan tahum, ketujuh tahun Khaibar. (Siyar A’lamun Nubala’, 2/586)
Amar Ma’ruf Nahi Munkar Beliau Kepada
Sang Ibu
Dari Abu Kasir, Yazid bin
Abdurrahman, Abu Hurairah bercerita kepadaku, “Dulu aku mendakwahi ibuku agar
masuk Islam ketika dia masih musyrik. Suatu hari aku mendakwahinya namun dia
malah memperdengarkan kepadaku cacian kepada Rasulullah shallallahu
‘alaihi wasallam dengan kalimat-kalimat yang tidak kusukai untuk kudengar.
Dari Abu Kasir, Yazid bin
Abdurrahman, Abu Hurairah bercerita kepadaku, “Dulu aku mendakwahi ibuku agar
masuk Islam ketika dia masih musyrik. Suatu hari aku mendakwahinya namun dia
malah memperdengarkan kepadaku cacian kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wasallam dengan kalimat-kalimat yang tidak kusukai untuk kudengar.
Akhirnya aku pergi menghadap
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sambil menangis. Ketika telah
berada di hadapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam aku
berkata, “Ya Rasulullah, sungguh aku berusaha untuk mendakwahi ibuku agar masuk
Islam namun dia masih saja menolak ajakanku. Hari ini kembali beliau aku
dakwahi namun dia malah mencaci dirimu. Oleh karena itu berdoalah kepada Allah
agar Dia memberikan hidayah kepada ibunya Abu Hurairah”. Rasulullah shallallahu
‘alaihi wasallam lantas berdoa, “Ya Allah, berilah hidayah kepada ibu
dari Abu Hurairah”.
Kutinggalkan Rasulullah shallallahu
‘alaihi wasallam dalam keadaan gembira dengan doa Nabi. Setelah aku sampai
di depan pintu rumahku ternyata pintu dalam kondisi terkunci. Ketika ibuku
mendengar langkah kakiku, beliau mengatakan, “Tetaplah di tempatmu, hai Abu
Hurairah”. Aku mendengar suara guyuran air. Ternyata ibuku mandi. Setelah
selesai mandi beliau memakai jubahnya dan segera mengambil kerudungnya lantas
membukakan pintu. Setelah pintu terbuka beliau mengatakan, “Hai Abu Hurairah,
aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah dan
Muhammad adalah hamba dan utusannya”.
Mendengar hal tersebut aku bergegas kembali
menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Aku menemui beliau dalam
keadaan menangis karena begitu gembira. Kukatakan kepada beliau, “Ya
Rasulullah, bergembiralah. Sungguh Allah telah mengabulkan doamu dan telah
memberikan hidayah kepada ibu Abu Hurairah”. Mendengar hal tersebut beliau
memuji Allah dan menyanjungnya lalu berkata, “Bagus”. Lantas kukatakan kepada
beliau, “Ya Rasulullah, doakanlah aku dan ibuku agar menjadi orang yang
dicintai oleh semua orang yang beriman dan menjadikan kami orang yang mencintai
semua orang yang beriman”. Beliaupun mengabulkan permintaanku. Beliau
berdoa, “Ya Allah, jadikanlah hamba-Mu ini yaitu Abu Hurairah dan ibunya
orang yang dicintai oleh semua hambaMu yang beriman dan jadikanlah mereka
berdua orang-orang yang mencintai semua orang yang beriman”. Karena itu
tidak ada seorang pun mukmin yang mendengar tentang diriku ataupun melihat
diriku kecuali akan mencintaiku. (HR Muslim no 6551)
Amar Ma’ruf Nahi Munkar Beliau kepada
Orang-orang yang Sedang Berwudhu’
Dari Muhammad bin Ziyad berkata,
“Saya mendengar Abu Hurairah saat ia melewati kita dan orang-orang saat itu
sedang berwudhu, beliau berkata, “Sempurnakanlah wudhu kalian, karena Abul
Qosim (Rasulullah) shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Celakalah
tumit-tumit dari siksa neraka.” (HR. Bukhari no.165)
Marilah kita melihat bagaimana Abu
Hurairah langsung menegur orang-orang yang kurang sempurna dalam wudhu, beliau
langsung menyebutkan kepada mereka sabda nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang
mengancam orang-orang yang tidak membasuh tumit dalam wudhu. Betapa banyak
masalah yang dianggap sepele namun ia sangat besar akibatnya di akhirat.
Amar Ma’ruf Nahi Munkar Beliau kepada
Orang-orang Di Pasar dengan Mengingatkan Mereka dari Fitnah
Dari Salim bin Abdullah berkata,
“Saya tidak tahu berapa kali saya melihat Abu Hurairah radhiyallahu’anhu berdiri
di pasar dan berkata, “Ilmu akan diangkat, fitnah bermunculan, Al-Harj (pembunuhan)
merajalela,” Dikatakan, “Wahai Rasulullah apakah yang dimaksud Al-Harj?
Kemudian beliau menjawab, “Begini” sambil mengisyaratkan dengan
tangannya seraya memiringkannya.” (HR. Bukhari no. 85)
Amar Ma’ruf Nahi Munkar Beliau kepada
Orang-Orang Di Pasar dan Pesan Beliau Akan Keutamaan Ilmu
Suatu hari Beliau melewati Pasar
Madinah, kemudian beliau berhenti dan berkata, “Wahai penduduk pasar, alangkah
lemahnya kalian!” Mereka bertanya, “Apa yang kamu maksud wahai Abu Hurairah?”
Beliau menjawab, “Yang aku maksud adalah dalam hal warisan Nabi yang sedang
dibagikan sedang kalian disini. Tidakkah kalian pergi kesana dan mengambil
bagian?” Mereka bertanya, “Dimana?” Beliau berkata, “Di masjid.” Merekapun
berlomba-lomba menuju masjid, sedang Abu Hurairah tetap berdiri sampai mereka
kembali, ia bertanya kepada mereka, “Mengapa kalian kembali?” Mereka menjawab,
“Wahai Abu Hurairah, kami telah datang ke masjid dan kami tidak melihat sesuatu
apapun dibagi” Abu Hurairah berkata kepada mereka, “Tidakkah kalian melihat
seseorang di dalam masjid?” Mereka menjawab, “Tentu, kami melihat sekelompak
orang shalat, sekolompok orang membaca Al-Qur’an, dan sekelompok orang
sedang mempelajari halal dan haram.” Abu Hurairah menjawab, “Itulah
yang saya maksud warisan Rasulullah.” (HR. Thabrani no. 1429)
Demikianlah beliau mengajak dan
memotivasi kaum muslimin untuk selalu menimba ilmu yang tidak lain adalah
warisan para nabi dan rasul. Bahkan orang-orang di pasar pun beliau ingatkan
akan pentingnya ilmu agama.
Beliau wafat tahun 59 H pada umur 78
tahun dan dishalatkan oleh Al-Walid bin ‘Utbah bin Abi Sufyan yang waktu itu
sebagai wakil pemimpin kota Madinah, diantara yang menyolatinya juga adalah
Ibnu ‘Amr dan Abu Said dan banyak daripada para sahabat dan selain sahabat
setelah shalat Ashar. Beliau wafat di kediamannya di tempat bernama ‘Aqiq,
kemudian jenazahnya dibawa ke Madinah dan dishalatkan disana kemudian
dikebumikan di kuburan Baqi’. Semoga Allah senantiasa melimpahkan rahmat dan
ridhonya kepada beliau. (Al-Bidayah wan-Nihayah, 8/114-115)