- trending-title
- Kelelahan yang Tak Terlihat: Ketika Rasulullah Saw. Menyimpan Luka untuk Umatnya
PERANG ini menjadi abadi dan masyhur
dalam sejarah Islam, antara lain karena diikuti dengan turunnya firman Allah
Ta'ala sebagaimana tercantum dalam Al-Qur'an (Surah Al-Ahzab). Untuk pertama
kalinya dalam usia yang masih muda, kaum muslimin di Madinah dikepung oleh
kurang lebih 10.000 orang pasukan musyrikin, yang terdiri dari berbagai suku
dan kabilah.
Pasukan itu diperkuat lagi oleh kaum Yahudi Banu Quraidhah, yang mengkhianati
perjanjian perdamaian dengan Rasulullah SAW . Mereka ini bergabung dengan
pasukan musyrikin Quraisy yang membeludak dari Makkah guna mengepung kota
Madinah. Peperangan tersebut dinamakan juga Perang Khandaq atau Perang Parit,
karena untuk menanggulangi penyerbuan kaum musyrikin Quraisy atas usul dan
prakarsa Salman Al Farisi , dengan persetujuan Rasulullah, kaum muslimin
menggali parit-parit yang cukup lebar dan dalam di sekitar pinggiran kota
Madinah. Di perang Khandaq ini keampuhan dan ketangkasan Ali bin Abi Thalib
juga teruji dalam perang tanding melawan seorang pendekar Quraisy yang terkenal
ulung, yaitu 'Amr bin Abdu Wudd Al'Amiri.
Al Hamid Al Husaini dalam bukunya
berjudul "Sejarah Hidup Imam Ali bin Abi Thalib RA" menggambarkan
'Amr seorang prajurit berkuda yang gesit dan lincah bermain pedang atau tombak.
Dengan congkak dan sombong si Kafir ini berani maju ke depan menyeberangi parit
pertahanan kaum muslimin, lewat bagian yang agak dangkal dan sempit. Sambil
membanggakan kebolehannya mengendalikan kuda, ia berteriak menantang:
"Hai... Apakah tak seorang pun yang berani keluar untuk bertanding?"
Tantangan dari seorang jagoan yang garang itu tidak ditanggapi oleh pasukan
muslimin.
Kaum muslimin banyak yang mengenal
siapa 'Amr bin Abdu Wudd itu dan betapa tenar namanya sebagai pendekar yang
mahir duel satu lawan satu. Setelah melihat kenyataan tak ada seorang pun yang
menanggapi tantangan 'Amr, Ali bin Abi Thalib tidak tahan lagi menahan perasaan
geramnya.
Ia segera berdiri dan berkata kepada
Rasulullah: "Ya Rasul Allah, biarlah saya yang menandingi dia!" Nabi
Muhammad yang mengetahui benar Amr itu seorang pendekar yang kenyang makan
garam perang tanding, beranggapan, bahwa 'Amr bukanlah tandingan bagi saudara
misannya yang baru berusia kurang dari 30 tahun itu.
"Duduk sajalah engkau, dia adalah 'Amr!" ucap Rasulullah. Di sisi
lain, karena tidak ada juga jawaban dari pihak muslimin, maka 'Amr yang
beringas itu berkoar lagi: "Mana itu surga yang akan kalian masuki bila
kalian mati terbunuh, hah?!" Ejekan itu terasa seperti sembilu yang sangat
mengiris-iris hati kaum muslimin, tetapi mereka tetap diam.
Dengan darah muda yang mendidih
laksana lahar yang menyembur dari kepundan, Sayidina Ali tidak dapat lagi
menahan gejolak hatinya mendengar penghinaan yang sangat menyakitkan itu. Ia
mendesak lagi kepada Rasulullah: "Biarlah saya yang menghadapinya; ya
Rasul Allah!" Tetapi Rasululullah kembali memerintahkan supaya Ali duduk
dan tenang, sebab yang akan dihadapinya bukan sembarang orang. Dengan perasaan
yang sudah terbakar dan dengan nada gemas, Ali berusaha meyakinkan Rasulullah
bahwa ia sanggup melawan dedengkot kaum musyrikin itu: "Biar 'Amr
sekalipun ya Rasul Allah!" Mengingat tekad Ali bin Abi Thalib yang begitu
bulat, dan mengingat pula perlu membangkitkan keberanian kaum muslimin,
akhirnya Rasulullah memberi izin dan restu kepada misannya itu untuk tampil ke
depan.
Dengan hangat Ali menyambut persetujuan dan izin Rasulullah. Ia segera meloncat
ke depan menyongsong tantangan seorang lawan yang bukan sembarangan. Dengan
mengenakan baju besi dan menghunus pedangnya yang tersohor dengan nama
zulfiqar, Ali maju dengan ayunan langkah yang tegap dan diiringi doa Rasululah
SAW: "Ya Allah, dia adalah saudaraku dan putera pamanku. Janganlah
Kaubiarkan aku seorang diri tanpa dia. Sesungguhnya Engkau tempat aku berserah
diri yang sebaik-baiknya." Setelah berhadap-hadapan dengan 'Amr, tanpa
perasaan gentar sedikit pun Ali bertanya kepada 'Amr: "Hai 'Amr, bukankah
engkau pernah berjanji, bahwa engkau akan menerima ajakan seorang dari Quraisy
untuk menempuh salah satu di antara dua jalan hidup?" "Ya!"
jawab 'Amr dengan singkat dan angkuh. "Engkau kuajak. ke jalan Allah dan
Rasul-Nya, ke jalan Islam," lanjut Ali. Kata-kata Ali ini diucapkan dengan
suara lantang yang memecahkan kesunyian garis pertempuran.
Hampir semua mata
dua pasukan yang siap tempur tertuju kepada dua sosok tubuh yang sedang
berhadap-hadapan. 'Amr bin Abdu Wudd yang sudah cukup usia, garang dan banyak
pengalaman menghadapi perang tanding kini bertatap muka dengan seorang anak
muda yang berdiri tegak di hadapannya. Pemuda pemberani, jantan dan perkasa,
berbaju besi dengan pedang terhunus di tangan.
Sungguh anggun kelihatannya. Konfrontasi antara dua orang itu melambangkan
konfrontasi dari dua kekuatan yang berlawanan. Kekuatan lama yang sudah lapuk
dan kekuatan baru yang sedang tumbuh, yaitu kekuatan jahiliyah dan kekuatan
lslam. Mendengar pertanyaan yang bernada desakan itu, dengan cepat 'Amr
menyahut: "Aku tidak membutuhkan itu!" "Kalau begitu, mari kita
mulai bertanding!" tantang Ali sambil siaga menghadapi gerakan 'Amr.
Tantangan Ali itu diremehkan saja oleh 'Amr: "Aku tak suka menumpahkan
darahmu. Ayahmu kan teman karibku!" Tanpa memperdulikan ucapan 'Amr, Ali
dengan perasaan tak sabar lagi berucap: "Tetapi, demi Allah, aku justru
ingin membunuhmu!" Ucapan seorang muda yang dianggap ketus oleh 'Amr itu,
ternyata membangkitkan amarah dan meluapkan emosinya. Cepat saja darah perang
yang mengalir dalam tubuh 'Amr mendidih.
Naluri keprajuritannya secara cepat menyentakkan gerak refleksi dan langsung seketika menyerang Ali. Demikian gesit dan tangkasnya 'Amr mengayunkan pedang dengan dorongan tenaga yang luar biasa. Tetapi Ali tidak kalah tinggi nalurinya dan gerak refleksinya. 'Amr yang sejak semula meremehkan lawan, ternyata sia-sia belaka dalam mengerahkan segala kekuatan ototnya untuk menebas leher Ali bin Abi Thalib. Kesempatan yang meleset itu dipergunakan sebaik-baiknya oleh Ali. Ia mengelak, menangkis dan menyerang dalam gerak beruntun secara kilat. Pada saat 'Amr kehilangan keseimbangan badan, Pedang Dzul Fiqar yang diayun kuat-kuat oleh Ali menyambar bahu kanan 'Amr sampai terbelah dua. Pendekar kebanggaan Quraisy itu jatuh dari atas kuda menggelepar di tanah mandi darah dan debu. Perang tanding berlangsung demikian cepat dan selesai jauh lebih cepat dari yang diperkirakan orang. Pada mulanya banyak yang menduga bahwa Ali yang "masih hijau" itu akan dibelah dua oleh pedang 'Amr. Oleh karena itu ketika jagoan Quraisy itu tersungkur tidak bangkit kembali, banyak orang dari kedua pasukan terkesima. Hampir saja mereka, tidak mempercayai apa yang sudah terjadi. Baru setelah Ali menyerukan takbir, kaum muslimin menyambutnya dengan mengumandangkan kebesaran Allah: Allaahu Akbar ... Allaahu Akbar.... ! Selanjutnya Ali bin Abi Thalib kembali menghampiri Rasulullah.
Dengan perasaan haru dan syukur ke hadirat Allah Ta'ala, Rasulullah mengeluarkan pernyataan singkat: "Perang tanding yang dilaksanakan oleh Ali bin Abi Thalib melawan 'Amr bin Abdu Wudd itu merupakan perbuatan paling mulia yang dilakukan umatku sampai hari kiyamat." Terbunuhnya jagoan Quraisy ini belum menyelesaikan jalannya perang Khandaq, namun cukup menimbulkan kegoncangan yang hebat di kalangan pasukan penyerbu. Semangat pasukan penyerbu makin merosot, setelah harapan mereka untuk dapat menerobos parit makin tipis.
Dalam keadaan seperti itu terjadilah angin ribut
dan hujan deras diiringi suara petir sambar menyambar. Kemah-kemah dan
perkakas-perkakas masak kaum musyrikin beterbangan dilanda angin kencang. Kubu
pertahanan mereka menjadi porak poranda dan banyak sekali diantara mereka yang
tak tahan menghadapi tekanan udara dingin. Di tengah-tengah hembusan angin
puyuh seribut itu, Abu Sufyan yang dalam perang Khandaq ini bertindak selaku
rimpinan pasukan penyerbu, berkata kepada anak buahnya: "Saudara-saudara,
kita tak perlu lama lagi tinggal di tempat ini. Banyak kuda dan unta kita yang
sudah binasa. Bani Quraidah sudah tak menepati janjinya lagi dengan kita.
Bahkan kita mendengar hal-hal dari mereka yang tidak menyenangkan hati. Tambah
lagi kita menghadapi angin kencang begini ributnya. Maka itu lebih baik kita
pulang saja. Aku sendiri akan berangkat pulang!" Di tengah-tengah angin
puyuh yang begitu kencangnya, Abu Sufyan dan rombongan secara bergelombang
meninggalkan tempat dan kembali ke Makkah. Keesokan harinya sudah tak ada lagi
seorang Quraisy atau Yahudi yang masih tinggal. Semuanya sudah jauh
meninggalkan parit. Rasulullah bersama kaum muslimin lainnya dengan tenang
kembali ke tempat kediaman masing-masing. Semuanya memanjatkan syukur
sedalam-dalamnya kepada Allah Ta'ala yang telah menghindarkan mereka dari
marabahaya.