- trending-title
- Kelelahan yang Tak Terlihat: Ketika Rasulullah Saw. Menyimpan Luka untuk Umatnya
Di hadapan mereka, pasukan Quraisy datang
dengan jumlah yang jauh lebih besar, lengkap dengan perlengkapan perang yang
mentereng. Sementara itu, kaum Muslimin hanya berjumlah sekitar 313 orang,
dengan persenjataan seadanya.
Malam sebelum peperangan, Rasulullah ﷺ mengumpulkan para sahabat. Beliau ingin mendengar pendapat
mereka sebelum mengambil keputusan.
Rasulullah ﷺ
berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata dengan suara yang tenang namun
tegas, "Jawablah,
wahai sekalian manusia!"
Tanpa ragu, Abu Bakar As-Shiddiq berdiri,
“Wahai Rasulullah, majulah dan perintahkan apa saja, kami akan bersamamu!”
Kemudian Umar bin Khattab pun ikut
berbicara, menyatakan kesiapan dan kesetiaan yang sama.
Namun, Rasulullah ﷺ tetap terdiam. Beliau kembali berkata, "Jawablah, wahai sekalian
manusia!"
Dari barisan, seorang sahabat bangkit. Ia
adalah Miqdad
bin Amr, seorang Muhajirin yang dikenal dengan keberaniannya.
Dengan suara lantang, ia berkata:
"Wahai Rasulullah! Kami tidak akan
mengatakan kepadamu seperti yang dikatakan Bani Israil kepada Musa: ‘Pergilah
engkau bersama Tuhanmu dan berperanglah, kami akan duduk di sini’. Tidak!
Tetapi kami akan berkata: Pergilah, wahai Rasulullah, sesungguhnya kami
bersamamu! Demi Dzat yang mengutusmu dengan kebenaran, jika engkau membawa kami
ke lautan, kami akan menyelam bersamamu!"
Ucapan Miqdad menggema di antara pasukan.
Mata Rasulullah ﷺ berbinar
mendengar keteguhan imannya.
Namun, Rasulullah ﷺ masih diam. Beliau kembali berkata, "Jawablah, wahai sekalian manusia!"
Kali ini, Sa’ad bin Mu’adz, pemimpin suku
Aus dari kaum Anshar, berdiri dan memahami maksud Rasulullah ﷺ.
"Wahai Rasulullah, sepertinya engkau
menunggu jawaban dari kami, kaum Anshar."
Sa’ad melanjutkan dengan penuh keyakinan:
"Wahai Rasulullah, kami telah beriman
kepadamu dan kami bersaksi bahwa apa yang engkau bawa adalah kebenaran. Kami
telah berjanji untuk mendengar dan taat kepadamu. Maka majulah wahai
Rasulullah, demi Dzat yang mengutusmu dengan kebenaran, jika engkau perintahkan
kami untuk menerjang lautan, kami akan melakukannya. Jika engkau membawa kami
ke medan perang, kami akan bertempur bersamamu hingga titik darah
penghabisan!"
Mendengar jawaban itu, Rasulullah ﷺ tersenyum penuh haru dan bersabda:
"Berangkatlah, semoga Allah memberkahi
kalian!"
Malam itu, semangat kaum Muslimin membara.
Dengan keyakinan yang kokoh, mereka melangkah menuju Badar—bukan dengan jumlah
besar atau perlengkapan lengkap, tetapi dengan iman yang tak tergoyahkan.
Dan di Badar, Allah memberikan kemenangan
yang luar biasa bagi kaum Muslimin. Sejarah
pun mencatat hari itu sebagai Yaumul Furqan, hari pembeda antara kebenaran dan
kebatilan.