• trending-title
  • Kelelahan yang Tak Terlihat: Ketika Rasulullah Saw. Menyimpan Luka untuk Umatnya

Kebijaksanaan Raja Najasyi dan keberanian Jafar bin Abi Thalib di Peristiwa Hijrah Ke Habasyah

Kisah hijrah ke Habasyah bermula ketika Rasulullah saw dan para sahabatnya yang masih minoritas di Makkah mengalami perlakuan buruk dari kaum Quraisy. Karena hal tersebut, Rasulullah saw memberikan izin kepada para sahabatnya untuk hijrah ke negara-negara lain yang lebih aman. Sebuah rombongan kecil dari kaum muslimin, yang terdiri dari sekitar 11 orang, memilih untuk hijrah ke Habasyah (sekarang Ethiopia).

Ada beberapa sebab mengapa Nabi Muhammad dan para pengikutnya hijrah ke Habasyah:

Penindasan dan persekusi: Nabi Muhammad dan para pengikutnya di Makkah mengalami penindasan dan persekusi dari kaum Quraisy yang tidak senang dengan dakwah dan ajaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad. Mereka menghadapi ancaman dan kekerasan fisik, sehingga mereka memutuskan untuk mencari perlindungan di tempat lain.

Kesulitan menyebarkan Islam: Penindasan yang dialami oleh Nabi Muhammad dan para pengikutnya membuat sulit bagi mereka untuk menyebarkan ajaran Islam di Makkah. Mereka mencari tempat yang lebih aman dan damai untuk menyebarkan Islam.

Hubungan yang baik dengan Raja Najashi: Nabi Muhammad memiliki hubungan yang baik dengan Raja Najashi, penguasa Ethiopia pada saat itu, melalui para pedagang dari Makkah. Raja Najashi dikenal sebagai penguasa yang adil dan toleran terhadap agama dan keyakinan yang berbeda-beda, sehingga Nabi Muhammad dan para pengikutnya merasa aman untuk mencari perlindungan di Habasyah.

Ketika mereka tiba di sana, mereka disambut oleh Raja Najasyi yang merupakan seorang pemimpin yang adil dan penuh toleransi terhadap agama lain. Raja Najasyi meminta mereka untuk menjelaskan mengenai keyakinan mereka dan alasannya untuk hijrah. Salah seorang dari rombongan tersebut, yaitu Jafar bin Abi Thalib, diangkat menjadi juru bicara dan memberikan sebuah pidato yang terkenal dalam sejarah Islam.

Berikut ini adalah beberapa kutipan dari dialog antara Jafar bin Abi Thalib dan Raja Najasyi:


Raja Najasyi: "Apa yang membawa kamu semua ke sini?"

Jafar bin Abi Thalib: "Kami adalah orang-orang yang terzalimi di tanah Arab, dan kami datang untuk mencari perlindungan di sini di bawah perlindunganmu."

Raja Najasyi: "Bagaimana kamu terzalimi di tanah Arab?"

Jafar bin Abi Thalib: "Kami adalah orang-orang yang dianiaya oleh orang-orang Quraisy. Kami adalah orang-orang yang ditekan dan disiksa karena kami beriman kepada Allah dan Rasul-Nya."

Raja Najasyi: "Apa yang dikatakan oleh musuh-musuhmu tentang Nabi Muhammad?"

Jafar bin Abi Thalib: "Mereka mengatakan hal-hal yang tidak benar tentang dia. Mereka mengatakan bahwa dia adalah seorang penyihir, seorang pemimpin pemberontakan, dan seorang yang ingin mengubah agama kita."

Raja Najashi: "Apa ajaranmu dan agamamu?"

Jafar: "Kami dulunya orang yang jahil dan menyembah berhala, mabuk-mabukan, dan melakukan perbuatan buruk. Kami tidak mengindahkan tetangga kami dan memperlakukan kerabat kami dengan kasar. Kami hidup seperti itu sampai Allah mengutus seorang nabi di antara kami yang kami kenal baik keluarganya dan keturunannya, serta memiliki akhlak yang baik. Dia memanggil kami untuk menyembah Allah yang Maha Esa dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun."

Raja Najashi: "Dan apa yang diajarkan Nabi itu tentang Yesus?"

Jafar: "Dia mengajarkan bahwa Yesus adalah seorang nabi dari Allah dan Rasul-Nya, lahir dari seorang perawan melalui tangan kehendak Allah dan memiliki akhlak yang baik. Dia adalah seorang yang terhormat di dunia dan akhirat."

Raja Najashi: "Kalian tidak berbeda dengan apa yang aku pegang sebagai agamaku, kecuali sedikit perbedaan. Kalian bebas tinggal di negeriku dan aku akan melindungi kalian."

Dialog antara Jafar bin Abi Thalib dan Raja Najasyi ini menunjukkan betapa toleran dan bijaksana Raja Najasyi dalam menghadapi para pengungsi Muslim, serta betapa kuatnya iman para pengungsi tersebut dalam mempertahankan keyakinan mereka. Ini adalah salah satu kisah yang terkenal dalam sejarah Islam, dan menunjukkan betapa pentingnya kebebasan beragama