- trending-title
- Kelelahan yang Tak Terlihat: Ketika Rasulullah Saw. Menyimpan Luka untuk Umatnya
Setelah
bertahun-tahun menghadapi tekanan dan penolakan dari kaum Quraisy di Makkah,
Rasulullah ﷺ
mencari peluang lain untuk menyebarkan Islam. Thaif, sebuah kota yang dihuni
oleh Bani Tsaqif, menjadi tujuan dakwah beliau. Dengan penuh harapan, Rasulullah
ﷺ
bersama Zaid bin Haritsah berangkat menuju Thaif, berharap penduduknya mau
menerima Islam.
Namun,
sambutan yang beliau dapatkan sungguh di luar dugaan. Para pemuka Thaif menolak
dakwah beliau dengan kasar. Mereka tidak hanya menolak, tetapi juga menghina
dan memperlakukan beliau dengan sangat buruk. Mereka menghasut penduduk untuk
mengusir Rasulullah ﷺ dari
kota itu. Anak-anak dan para pemuda dikerahkan untuk melempari beliau dengan
batu.
Rasulullah
ﷺ
berusaha berjalan menjauh dari Thaif dengan tubuh yang penuh luka dan kaki yang
berdarah. Rasa sakit fisik itu belum seberapa dibandingkan dengan rasa pedih di
hati beliau karena penolakan yang begitu menyakitkan. Setelah berjalan cukup
jauh, beliau berhenti di sebuah kebun milik dua bersaudara, Utbah dan Syaibah,
yang merupakan orang-orang kaya di Makkah. Di sana, Rasulullah ﷺ beristirahat di bawah pohon anggur.
Dalam
keadaan penuh luka dan keletihan, Rasulullah ﷺ tidak marah atau mengeluh. Sebaliknya,
beliau justru berdoa dengan penuh ketundukan kepada Allah:
"Allahumma
Ya Allah, kepada-Mu aku mengadukan kelemahanku, kekurangan daya upayaku di
hadapan manusia. Wahai Tuhan Yang Maharahim, Engkaulah Tuhan orang-orang yang
lemah dan Tuhan pelindungku. Kepada siapa hendak Engkau serahkan nasibku?
Kepada orang jauhkah yang berwajah muram kepadaku atau kepada musuh yang akan
menguasai diriku? Asalkan Engkau tidak murka kepadaku, aku tidak peduli sebab
sungguh luas kenikmatan yang Engkau limpahkan kepadaku. Aku berlindung kepada
nur wajah-Mu yang menyinari kegelapan dan karena itu yang membawa kebaikan di
dunia dan akhirat dari kemurkaan-Mu dan yang akan Engkau timpakan kepadaku.
Kepada Engkaulah aku adukan halku sehingga Engkau ridha kepadaku. Dan, tiada
daya upaya melainkan dengan kehendak-Mu."
Doa
itu menunjukkan keteguhan hati Rasulullah ﷺ. Meski telah mengalami penderitaan begitu
besar, beliau tidak meminta azab bagi penduduk Thaif. Beliau hanya berharap
agar Allah tetap meridhainya.
Saat
itulah, Allah mengutus malaikat Jibril yang membawa pesan bahwa jika Rasulullah
ﷺ
menghendaki, maka Allah akan membinasakan penduduk Thaif dengan menimpakan
gunung kepada mereka. Namun, dengan penuh kasih sayang, Rasulullah ﷺ menolak tawaran itu dan justru berkata, "Jangan. Aku berharap
akan lahir dari keturunan mereka orang-orang yang menyembah Allah dan tidak
menyekutukan-Nya."
Keteguhan
dan kasih sayang Rasulullah ﷺ inilah
yang akhirnya membuahkan hasil. Beberapa tahun kemudian, Thaif justru menjadi
salah satu benteng kuat Islam, dan dari keturunan mereka lahir para pejuang yang
setia dalam menyebarkan ajaran Islam.
Peristiwa
di Thaif menjadi pelajaran bagi umat Islam tentang kesabaran, keteguhan, dan
keikhlasan dalam berdakwah. Rasulullah ﷺ mengajarkan bahwa dalam menghadapi
rintangan, seorang da’i tidak boleh putus asa, melainkan harus terus berusaha
dan tetap berserah diri kepada Allah.