- trending-title
- Kelelahan yang Tak Terlihat: Ketika Rasulullah Saw. Menyimpan Luka untuk Umatnya
Amr
bin Yasir (عمرو بن ياسر) adalah salah satu sahabat Nabi Muhammad SAW yang
sangat istiqamah dalam mempertahankan imannya meskipun harus menghadapi
berbagai macam kesulitan dan rintangan. Ia dilahirkan di kota Mekkah pada tahun
568 M.
Sebelum
masuk Islam, Amr adalah seorang yang taat dalam agama paganisme Quraisy. Namun,
setelah ia mendengar ajaran Islam dari Nabi Muhammad SAW, ia segera tertarik
dan masuk Islam bersama keluarganya. Amr dan keluarganya adalah di antara
orang-orang pertama yang memeluk Islam di Mekkah.
Keislaman
mereka termasuk dalam golongan Assabiqunal Awwalun (generasi
pertama). Dan sebagaimana halnya orang-orang saleh yang termasuk dalam golongan
yang pertama masuk Islam, mereka cukup menderita karena siksa dan kekejaman
Quraisy.
Orang-orang
Quraisy menjalankan siasat terhadap Kaum Muslimin sesuai situasi dan kondisi.
Seandainya mereka ini golongan bangsawan dan berpengaruh, mereka hadapi dengan
ancaman dan gertakan. Dan setelah itu mereka lancarkan kepadanya perang urat
syaraf yang amat sengit.
Dan
sekiranya yang beriman itu dari kalangan penduduk Makkah yang rendah
martabatnya dan yang miskin, atau dari golongan budak belian, maka mereka
didera dan disulutnya dengan api bernyala.
Maka
keluarga Yasir termasuk dalam golongan yang kedua ini. Dan soal penyiksaan
mereka, diserahkan kepada Bani Makhzum. Setiap hari Yasir, Sumayyah dan Ammar
dibawa ke padang pasir Makkah yang demikian panas, lalu didera dengan berbagai
azab dan siksa.
Penderitaan
dan pengalaman Sumayyah dari siksaan ini amat ngeri dan menakutkan, namun
Sumayyah telah menunjukkan sikap dan pendirian tangguh, yang dari awal hingga
akhirnya telah membuktikan kepada kemanusiaan suatu kemuliaan yang tak pernah
hapus dan kehormatan yang pamornya tak pernah luntur.
Rasulullah
SAW selalu mengunjungi tempat-tempat yang diketahuinya sebagai arena penyiksaan
bagi keluarga Yasir. Ketika itu tidak suatu apa pun yang dimilikinya untuk
menolak bahaya dan mempertahankan diri.
Pengorbanan-pengorbanan
mulia yang dahsyat ini tak ubahnya dengan tumbal yang akan menjamin bagi Agama
dan akidah keteguhan yang takkan lapuk. Ia juga menjadi contoh teladan yang
akan mengisi hati orang-orang beriman dengan rasa simpati, kebanggaan dan kasih
sayang. Ia adalah menara yang akan menjadi pedoman bagi generasi-generasi
mendatang untuk mencapai hakikat agama, kebenaran dan kebesarannya.
Demikianlah,
berlaku pula bagi agama Islam. Makna ini telah dijelaskan oleh Al-Qur'an kepada
Kaum Muslimin bukan hanya pada satu atau dua ayat.
Firman
Allah SWT: "Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan
mengatakan: “Kami telah beriman” padahal mereka belum lagi diuji?" (QS
Al-Ankabut: 2)
"Apakah
kalian mengira akan dapat masuk surga, padahal belum lagi terbukti bagi Allah
orang-orang yang berjuang di antara kalian, begitu pun orang-orang yang
tabah?" (QS Ali Imran: 142)
"Sungguh,
Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, hingga terbuktilah bagi Allah
orang-orang yang benar dan terbukti pula orang-orang yang dusta." (QS
Al-Ankabut: 3)
Memang
demikianlah Al-Qur’an mendidik putra dan para pendukungnya, bahwa pengorbanan
merupakan esensi atau saripati keimanan. Dan bahwa kepahlawanan menghadapi
kekejaman dan kekerasan dihadapi dengan kesabaran, keteguhan dan pantang
mundur. Maka Sumayyah, Yasir, dan Ammar adalah golongan luar biasa yang beroleh
berkah ini.
Pada
suatu hari, ketika Rasulullah SAW mengunjungi mereka, Ammar berkata,
"Wahai Rasulullah, azab yang kami derita telah sampai ke puncak."
Rasulullah
SAW berkata, "Sabarlah, wahai Abal Yaqdhan... Sabarlah wahai keluarga
Yasir, tempat yang dijanjikan bagi kalian ialah surga!"
Siksaan
yang diami oleh Ammar dilukiskan oleh kawan-kawannya dalam beberapa riwayat.
Berkata Amar bin Hakam, "Ammar itu disiksa sampai-sampai ia tak menyadari
apa yang diucapkannya.”
Ammar
bin Maimun melukiskan, "Orang-rang musyrik membakar Ammar bin
Yasir dengan api. Maka Rasulullah SAW lewat di tempatnya, memegang
kepalanya dengan tangan beliau, sambil bersabda, 'Hai api, jadilah kamu sejuk
dingin di tubuh Ammar, sebagaimana dulu kamu juga sejuk dingin di tubuh
Ibrahim!”
Bagaimanapun
juga, semua bencana itu tidaklah dapat menekan jiwa Ammar, walau telah menekan
punggung dan menguras tenaganya. Ia baru merasa dirinya benar-benar celaka,
ketika pada suatu hari tukang-tukang cambuk dan para penderanya menghabiskan
segala daya upaya dalam melampiaskan kezaliman dan kekejiannya. Semenjak
hukuman bakar dengan besi panas, sampai disalib di atas pasir panas dengan
ditindih batu laksana bara merah, bahkan sampai ditenggelamkan ke dalam air
hingga sesak nafasnya dan mengelupas kulitnya yang penuh dengan luka.
Pada
hari itu, ketika ia telah tak sadarkan diri lagi karena siksaan yang demikian
berat, orang-orang itu berkata kepadanya, “Pujalah olehmu tuhan-tuhan kami!”
Ammar
pun mengikuti perintah mereka tanpa menyadari apa yang keluar dari bibirnya.
Ketika siuman sebentar akibat dihentikannya siksaan, tiba-tiba ia sadar akan
apa yang telah diucapkannya, maka hilanglah akalnya dan terbayanglah di matanya
betapa besar kesalahan yang telah dilakukannya, suatu dosa besar yang tak dapat
ditebus dan diampuni lagi.
Ketika
Rasulullah SAW menemui sahabatnya itu didapatinya ia sedang menangis, maka
disapunyalah tangisnya itu dengan tangan beliau seraya berkata,
"Orang-orang kafir itu telah menyiksamu dan menenggelamkanmu ke dalam air
sampai kamu mengucapkan begini dan begitu?”
“Benar,
wahai RasuIullah," ujar Ammar.
Rasulullah
tersenyum berkata, “Jika mereka memaksaimu lagi, tidak apa, ucapkanlah seperti
apa yang kamu katakan tadi!”
Lalu
dibacakan Rasulullah kepadanya ayat mulia berikut ini: "Kecuali orang
yang dipaksa, sedang hatinya tetap teguh dalam keimanan..." (QS
An-Nahl: 106)
Kembalilah
Ammar diliputi oleh ketenangan dan dera yang menimpa tubuhnya. Ia tak lagi
merasakan sakit. Jiwanya tenang. Ia menghadapi cobaan dan siksaan itu dengan
ketabahan luar biasa, hingga pendera-penderanya merasa lelah dan menjadi lemah,
bertekuk lutut di hadapan tembok keimanan yang begitu kokoh.
Setelah
Rasulullah SAW ke Madinah, kaum Muslimin tinggal bersama beliau bermukim di
sana, secepatnya masyarakat Islam terbentuk dan menyempurnakan barisannya. Maka
di tengah-tengah masyarakat Islam yang beriman ini, Ammar pun mendapatkan
kedudukan yang tinggi. Rasulullah amat sayang kepadanya, dan beliau sering
membanggakan keimanan dan ketakwaan Ammar kepada para shahabat.
Rasulullah
bersabda, "Diri Ammar dipenuhi keimanan sampai ke tulang punggungnya!”
Dan
sewaktu terjadi selisih paham antara Khalid bin Walid dengan Ammar, Rasulullah
SAW bersabda, “Siapa yang memusuhi Ammar, maka ia akan dimusuhi Allah. Dan
siapa yang membenci Ammar, maka ia akan dibenci Allah!"
Maka
tak ada pilihan bagi Khalid bin Walid, pahlawan Islam itu, selain segera
mendatangi Ammar untuk mengakui kekhilafannya dan meminta maaf.
Jika
Rasulullah SAW telah menyatakan kesayangannya terhadap seorang Muslim demikian
rupa, pastilah keimanan orang itu, kecintaan dan jasanya terhadap Islam,
kebesaran jiwa dan ketulusan hati serta keluhuran budinya telah mencapai batas
dan puncak kesempurnaan.
Demikian
halnya Ammar, berkat nikmat dan petunjuk-Nya, Allah telah memberikan kepada
Ammar ganjaran setimpal, dan menilai takaran kebaikannya secara penuh. Hingga
disebabkan tingkatan petunjuk dan keyakinan yang telah dicapainya, maka
Rasulullah menyatakan kesucian imannya dan mengangkat dirinya sebagai contoh
teladan bagi para sahabat.
Beliau
bersabda, “Contoh dan ikutilah setelah kematianku nanti, Abu Bakar dan Umar.
Dan ambillah pula hidayah yang dipakai Ammar untuk jadi bimbingan!”
Ketika
Rasulullah dan kaum Muslimin membangun masjid di Madinah, beliau turut serta
mengangkat batu dan melakukan pekerjaan yang paling sukar. Di tengah-tengah
khalayak ramai yang sedang hilir mudik itu, terlihatlah Ammar bin Yasir sedang
mengangkat batu besar.
Rasulullah
juga melihat Ammar, dan langsung mendekatinya. Setelah berhampiran, maka beliau
mengipaskan debu yang menutupi kepala Ammar dengan tangannya. kemudian bersabda
di hadapan semua shahabatnya, "Malangnya Ibnu Sumayyah, ia dibunuh oleh
golongan pendurhaka!"
Kata-kata
itu diulangi oleh Rasulullah sekali lagi... kebetulan bertepatan dengan
ambruknya dinding di atas tempat Ammar bekerja, hingga sebagian kawannya
menyangka bahwa ia tewas yang menyebabkan Rasulullah meratapi kematiannya itu.
Para
sahabat terkejut dan menjadi ribut karenanya, tetapi dengan nada menenangkan
dan penuh kepastian, Rasulullah menjelaskan, "Tidak, Ammar tidak apa-apa.
Hanya nanti ia akan dibunuh oleh golongan pendurhaka!"
Ammar
mendengarkan ramalan itu dan meyakini kebenaran pandangan yang disingkapkan
oleh Rasulullah. Tetapi ia tidak merasa gentar, karena semenjak menganut Islam
ia telah dicalonkan untuk menghadapi maut dan mati syahid di setiap detik, baik
siang maupun malam.
Ammar
selalu terjun bersama Rasulullah dalam tiap perjuangan dan peperangan
bersenjata, baik di Badar, Uhud, Khandaq, dan Tabuk. Dan tatkala Rasulullah
telah wafat, perjuangan Ammar tidaklah berhenti. Ia terus berjuang dan berjihad
menegakkan agama Allah.
Ketika
terjadi pertentangan antara Khalifah Ali bin Abi Thalib dan Muawiyah, Ammar
berdiri di samping menantu Rasulullah tersebut. Bukan karena fanatik atau
berpihak, tetapi karena tunduk kepada kebenaran dan teguh memegang janji! Ali
adalah khalifah kaum Muslimin, dan berhak menerima baiat sebagai pemimpin umat.
Ketika
meletus Perang Shiffin yang mengerikan itu, Ammar ikut bersamanya. Padahal saat
itu usianya telah mencapai 93 tahun. Orang-orang dari pihak Muawiyah mencoba
sekuat daya untuk menghindari Ammar, agar pedang mereka tidak menyebabkan
kematiannya hingga menjadi manusia “golongan pendurhaka”.
Tetapi
keperwiraan Ammar yang berjuang seolah-olah ia satu pasukan tentara juga,
menghilangkan pertimbangan dan akal sehat mereka. Maka sebagian dari anak buah
Muawiyah mengintai-ngintai kesempatan untuk menewaskannya. Hingga setelah
kesempatan itu terbuka, mereka pun membunuh Ammar.
Maka
sekarang tahulah orang-orang siapa kiranya golongan pendurhaka itu, yaitu
golongan yang membunuh Ammar, yang tidak lain dari pihak Muawiyah!
Jasad
Ammar bin Yassir kemudian dipangku Khalifah Ali, dibawa sebuah ke tempat untuk
dishalatkan bersama kaum Muslimin, lalu dimakamkan dengan pakaiannya.
Setelah
itu, para sahabat kemudian berkumpul dan saling berbincang. Salah seorang berkata,
“Apakah kau masih ingat waktu sore hari itu di Madinah, ketika kita sedang
duduk-duduk bersama Rasulullah SAW dan tiba-tiba wajahnya berseri-seri lalu
bersabda, "Surga telah merindukan Ammar?"
"Benar,"
jawab yang lain.
“Dan
waktu itu juga disebutnya nama-nama lain, di antaranya Ali, Salman dan
Bilal..." timpal seorang lagi.
Bila
demikian halnya, maka surga benar-benar telah merindukan Ammar. Dan jika
demikian, maka telah lama surga merindukannya, sedang kerinduannya
tertangguhkan, menunggu Ammar menyelesaikan kewajiban dan memenuhi
tanggungjawabnya. Dan tugas itu telah dilaksanakannya dan dipenuhinya dengan
hati gembira.