- trending-title
- Kelelahan yang Tak Terlihat: Ketika Rasulullah Saw. Menyimpan Luka untuk Umatnya
Terjadi pada bulan Syawal tahun 8 Hijriah. Selang beberapa pekan dari
peristiwa Fathu Makkah. Dimana 10.000 pasukan kaum muslimin berhasil melakukan
penaklukan besar atas Quraisy di Makkah. Tanpa perlawanan. Tanpa pertumpahan
darah. Kafir Quraisy langsung menyerah.
Penaklukan Makkah kemudian menyeret kabilah-kabilah di sekitaran Makkah
untuk kemudian berbai'at menyerahkan ketaatan kepada Rasulullah. Tunduk kepada
Islam. Tapi tidak dengan Bani Tsaqif dan Bani Hawazin di Thaif.
Kedua bani tersebut menyeloroh, "Muhammad bisa menang atas Quraisy,
karena mereka belum mencoba menyerang kita. Kita serang saja Muhammad. Biar
mereka merasakan kekuatan kita."
Intelejen kaum muslimin mendapatkan informasi akan rencana penyerangan
ini. Makkah yang baru ditaklukan sangat rentan mendapat serangan, jangan sampai
musuh masuk ke dalam kota. Mereka yang baru masuk Islam bisa goyah berbalik
murtad.
Maka diputuskanlah menghadang pasukan Bani Hawazin Dan Bani Tsaqif.
Sebelum masuk ke Makkah.
Bergeraklah 12.000 pasukan kaum muslimin. Menghadang musuh. Angka yang
cukup besar. Sebuah kampanye perang besar yang dilakukan. Ada euforia kemenangan.
Dilanjutkan perasaan aman dengan jumlah.
Pada Fathu Makkah, 10.000 pasukan Rasululllah shallahu'alaihi wassalam
menempuh 500 km lebih dalam 10 hari perjalanan. Jarak Madinah ke Mekkah.
Sedangkan di Perang Hunain ini, 12.000 pasukan kaum muslimin menempuh 4
hari perjalanan untuk sekedar jarak 20 km. Pergi 6 Syawal, dan sampai 10
Syawal. Indikasi merasa bisa menang mudah. Indikasi mulai santai.
Maka dampaknya, Bani Tsaqif dan Hawazin berhasil menduduki posisi diatas
lembah. Dengan menempatkan banyak ahli pemanah.
Benar saja, begitu kaum muslimin menuruni lembah, serangan mendadak
mencederai sebagian besar kaum muslimin. Pasukan kocar kacir. Kecuali
Rasulullah dan beberapa sahabat terpilih.
Inilah yang menjadi Asbabun Nuzul ayat ke-25 dari surah At Taubah :
لَقَدۡ
نَصَرَكُمُ ٱللَّهُ فِي مَوَاطِنَ كَثِيرَةٖ وَيَوۡمَ حُنَيۡنٍ إِذۡ
أَعۡجَبَتۡكُمۡ كَثۡرَتُكُمۡ فَلَمۡ تُغۡنِ عَنكُمۡ شَيۡٔٗا
وَضَاقَتۡ عَلَيۡكُمُ ٱلۡأَرۡضُ بِمَا رَحُبَتۡ ثُمَّ وَلَّيۡتُم
مُّدۡبِرِينَ ٢٥
Sungguh, Allah telah menolong kamu (mukminin) di banyak medan perang,
dan (ingatlah) Perang Hunain, ketika jumlahmu yang besar itu membanggakan kamu,
tetapi (jumlah yang banyak itu) sama sekali tidak berguna bagimu, dan bumi yang
luas itu terasa sempit bagimu, kemudian kamu berbalik ke belakang dan lari
tunggang-langgang. (Surah At Taubah : ayat 25)
Idz a'jabatkum katsrotukum, ingatlah ketika ada rasa berbangga atas
banyakmu. Ingatlah ketika kamu berbangga atas jumlah banyakmu.
Falam yughni ankum syai'an, maka tak berguna atasmu sama sekali. Maka
jumlah banyak itu sama sekali gak ada pengaruhnya untukmu.
Jumlah pasukan sebesar itu ternyata tidak berguna sama sekali. Kaum
muslimin lari tunggang langgang. Walaupun pada akhirnya Rasulullah kembali
berhasil melakukan konsolidasi cepat atas pasukan. Tapi itu kita bahas pada
tulisan berikutnya.
Percaya diri atas sebuah proses perjuangan itu harus. Tetapi ketika
merasa terjamin menang gegara memiliki banyak perbekalan atau hebatnya pasukan,
ini yang masalah.
Didalam aktivitas Dakwah juga demikian. Perasaan bangga atas besarnya
angka ini ternyata bukanlah adab seorang muslim. Allah azza wa jalla telah
memberikan kita pelajaran pada Hunain, bahwa "angka besar" itu gak
ada gunanya untukmu.
Pada akhirnya konsolidasi pasukan berikutnya hanya melibatkan sedikit
sahabat dari golongan kaum muslimin. 12.000 pasukan ambyar begitu saja. Tinggal
sedikit yang tersisa.
Itulah pelajaran besar yang harusnya kita renungkan.