• trending-title
  • Kelelahan yang Tak Terlihat: Ketika Rasulullah Saw. Menyimpan Luka untuk Umatnya

Kisah Abu Bakar Ash-Shiddiq Memerangi Para Penolak Zakat

 Situasi Umat Pasca Wafatnya Rasulullah

Setelah wafatnya Rasulullah , umat Islam memasuki masa yang sangat genting. Gelombang keguncangan menyelimuti jazirah Arab. Kaum munafik menampakkan wajah aslinya, dan sebagian kabilah Arab mulai menarik bai’at dan kesetiaannya kepada kekuasaan pusat di Madinah.

Di tengah kekacauan itu, Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu diangkat sebagai khalifah pertama kaum Muslimin. Belum sempat menghela napas, ujian demi ujian langsung menguji kepemimpinannya. Di antara ujian paling besar adalah kemunculan gerakan penolakan zakat.

Beberapa kabilah mengatakan, “Kami tetap Muslim, kami tetap salat, tapi zakat tidak lagi wajib. Itu hanya kewajiban kepada Rasulullah .” Mereka menolak mengirimkan zakat ke Madinah sebagaimana yang mereka lakukan di masa Nabi.

Bagi sebagian orang, ini adalah masalah kecil. Bukankah mereka masih Muslim? Masih salat? Tapi tidak bagi Abu Bakar. Ia memahami betul bahwa zakat bukan sekadar urusan administrasi keuangan. Zakat adalah salah satu rukun Islam. Menolaknya berarti membongkar pondasi agama.


Dialog Tegang: Abu Bakar vs Umar bin Khattab

Dalam pertemuan dewan syura, Umar bin Khattab—yang terkenal dengan ketegasannya—justru menyarankan untuk tidak terburu-buru memerangi mereka.

“Wahai Abu Bakar,” kata Umar, “bagaimana mungkin engkau memerangi orang-orang yang mengucapkan laa ilaaha illallaah? Bukankah Rasulullah bersabda: Barang siapa mengucapkannya, maka darah dan hartanya terlindungi kecuali dengan hak Islam?

Namun jawaban Abu Bakar membuat seluruh ruangan hening.

“Demi Allah,” tegas Abu Bakar, “aku akan memerangi siapa pun yang membedakan antara salat dan zakat. Keduanya adalah satu kesatuan. Zakat adalah hak atas harta, sebagaimana salat adalah hak atas tubuh.”

Ia menambahkan, dengan penuh keteguhan:

“Demi Allah, seandainya mereka menolak memberikan kepadaku tali unta (yang dahulu mereka berikan kepada Rasulullah ) niscaya aku akan memerangi mereka karena penolakannya.”

Umar bin Khattab, yang dikenal keras dan tegas, berkata kemudian:

“Demi Allah, tidak lain Allah telah melapangkan hati Abu Bakar untuk sebuah keputusan yang benar. Maka aku tahu, inilah kebenaran.”


Pecahnya Perang Riddah: Perang Melawan Para Penentang Zakat

Abu Bakar segera membentuk pasukan. Meskipun kondisi pasukan Islam masih lemah karena sebagian besar kekuatan militer sedang dalam perjalanan menuju Syam dalam ekspedisi Usamah bin Zaid, Abu Bakar tak gentar.

Dia mengirimkan surat kepada setiap kabilah, menyeru mereka kembali kepada kewajiban zakat. Namun sebagian tetap bersikeras menolak. Maka Abu Bakar menyatakan: "Kami tidak akan menerima Islam separuh. Siapa yang tidak mau menunaikan zakat, maka kami akan memeranginya."

Pecahlah Perang Riddah — perang melawan kemurtadan dan penolakan zakat. Di medan perang, para sahabat seperti Khalid bin Walid, Ikrimah bin Abi Jahl, dan banyak panglima lainnya dikerahkan ke seluruh penjuru Arab untuk menundukkan para pembangkang.

Kemenangan demi kemenangan diraih. Kabilah demi kabilah tunduk. Islam kembali tegak di tanah Arab. Zakat kembali mengalir ke Baitul Mal di Madinah.


Pelajaran Besar dari Ketegasan Abu Bakar

1.     Kepemimpinan bukan sekadar mempertahankan kekuasaan, tapi menjaga kebenaran. Abu Bakar tak goyah meski ia berdiri sendirian pada awalnya. Bahkan sahabat-sahabat terdekat pun sempat meragukannya. Tapi ia tahu, membiarkan zakat ditinggalkan berarti membuka pintu kehancuran Islam.

2.     Zakat adalah bagian dari rukun Islam yang tak bisa ditawar. Menolak zakat adalah pemberontakan terhadap syariat. Jika Abu Bakar membiarkan satu rukun diruntuhkan, maka umat akan meruntuhkan yang lainnya dengan mudah.

3.     Ketegasan dalam menjaga agama lebih utama daripada kompromi demi perdamaian sesaat. Abu Bakar memilih perang daripada membiarkan syariat dihina. Dan pilihan itulah yang menyelamatkan Islam dari perpecahan.

4.     Iman sejati diuji dalam krisis. Abu Bakar adalah simbol keteguhan. Di saat semua gentar, ia berkata: “Jika mereka tidak membayar tali pengikat unta, aku akan memerangi mereka.” Inilah keberanian iman, bukan keberanian emosi.


Penutup

Keputusan Abu Bakar memerangi para penolak zakat adalah babak penting dalam sejarah Islam. Ia bukan hanya menyelamatkan zakat, tapi menyelamatkan keseluruhan Islam dari perpecahan dan kehancuran. Dari kisah ini, kita belajar bahwa agama tidak bisa ditegakkan tanpa ketegasan dan keberanian dalam memegang prinsip.

Semoga Allah meridhai Abu Bakar, pemimpin agung yang menjaga Islam di saat badai datang menerpa.