- trending-title
- Kelelahan yang Tak Terlihat: Ketika Rasulullah Saw. Menyimpan Luka untuk Umatnya
Nabi Muhammad ternyata memiliki peran
dalam penempatan kembali batu Hajar Aswad di Ka'bah. Beliau
mendapatkan kepercayaan dari orang-orang Quraisy untuk meletakkan kembali batu
Hajar Aswad.
Kisah ini bermula usai renovasi
bangunan Ka'bah selesai pada masa Rasulullah SAW, tibalah saatnya
meletakkan kembali Hajar Aswad pada tempatnya semula. Tetapi, terjadi
perselisihan pendapat yang tajam di antara orang-orang Quraisy dan hampir-hampir
menimbulkan permusuhan.
Perbedaan pendapat tersebut mengenai
siapakah yang layak melakukannya. Pada saat yang genting itu, Abu Umayyah Al
Makhzumi yang merupakan tokoh yang paling tua dalam Kaum Quraisy tampil
meredamkan gejolak perselisihan tersebut.
Abu Umayyah mengatakan bahwa tugas
peletakan Hajar Aswad tersebut harus diberikan kepada orang yang paling dulu
masuk masjid melalui pintu Bani Syaibah. Orang-orang Quraisy pun lalu
menyetujuinya.
Semata-mata atas kehendak Allah,
ternyata Nabi Muhammad-lah orang yang pertama kali masuk masjid dari pintu Bani
Syaibah. Mengetahui hal ini, orang-orang Quraisy pun berseru sambil bergembira,
"Kami rela, karena dialah orang yang dapat dipercaya." Sehingga,
dipilihnya Nabi Muhammad untuk meletakkan kembali Hajar Aswad karena
begitu percayanya orang Quraisy kepada Nabi Muhammad.
Ketika Muhammad diberi tahu tentang
semua ini, beliau lalu membentangkan surbannya dan meletakkan Hajar Aswad di
tengahnya. Beliau kemudian meminta kepada setiap kepala suku untuk memegangi
ujung-ujung surban dan mengangkatnya bersama-sama. Ketika sampai di tempat,
beliau mengambil Hajar Aswad tersebut dengan tangannya sendiri. Nabi Muhammad
SAW kemudian meletakkannya di tempat yang semestinya. Puaslah semua orang-orang
Quraisy pada saat itu.