• trending-title
  • Kelelahan yang Tak Terlihat: Ketika Rasulullah Saw. Menyimpan Luka untuk Umatnya

Kisah Ghulam dan Pengorbanannya dalam Dakwah

Dalam Al-Qur'an, terdapat kisah inspiratif tentang seorang pemuda yang disebut sebagai Ghulam, yang rela mengorbankan nyawanya demi tegaknya keimanan di negerinya. Kisah ini tidak disebutkan secara langsung dalam Al-Qur'an dengan nama tertentu, tetapi diceritakan dalam hadis Nabi dan diabadikan dalam Surah Al-Buruj, yang mengisahkan tragedi Ashabul Ukhdud (para pembuat parit).

Ghulam dan Sang Rahib

Dikisahkan bahwa dahulu, ada seorang raja zalim yang mengaku sebagai Tuhan. Ia memiliki seorang tukang sihir yang telah tua dan meminta raja untuk mencari seorang pemuda yang bisa menggantikannya. Seorang Ghulam pun dipilih. Namun, di tengah perjalanan belajarnya, ia bertemu dengan seorang rahib (pendeta saleh) yang mengajarinya tauhid dan keimanan kepada Allah.

Setiap hari, Ghulam belajar dari tukang sihir dan juga dari sang rahib. Hingga suatu hari, Ghulam diuji ketika di hadapannya ada seekor binatang besar yang menghalangi jalan orang-orang. Ia berdoa, "Ya Allah, jika ajaran rahib lebih benar daripada ajaran tukang sihir, maka bunuhlah binatang ini dengan lemparanku." Setelah ia melempar batu, binatang itu mati.

Sang rahib pun berkata, "Wahai anakku, engkau kini lebih mulia dariku. Namun, bersiaplah menghadapi ujian."

Ghulam yang Menyembuhkan

Allah memberikan keistimewaan kepada Ghulam dengan kemampuan menyembuhkan orang sakit, termasuk seorang pejabat kerajaan yang buta. Ketika pejabat itu sembuh, ia pun beriman kepada Allah. Hal ini sampai ke telinga raja, yang kemudian menangkap Ghulam dan menyiksanya agar kembali ke keyakinan lama.

Namun, Ghulam tetap teguh dalam keimanannya. Raja pun mencoba membunuhnya dengan berbagai cara—melemparnya dari puncak gunung dan menenggelamkannya ke laut—namun Allah selalu menyelamatkannya.

Mati Demi Keimanan Rakyat

Akhirnya, Ghulam sendiri memberi tahu cara untuk membunuhnya. Ia berkata kepada raja, "Engkau tidak akan bisa membunuhku kecuali jika engkau mengumpulkan rakyatmu, lalu mengambil panahku, dan memanahku dengan menyebut nama Allah."

Raja pun melakukannya. Ia mengambil panah milik Ghulam, lalu melepaskannya dengan mengatakan, "Dengan nama Allah, Tuhan Ghulam." Panah itu akhirnya menewaskan Ghulam.

Namun, kematian Ghulam justru menjadi awal kemenangan dakwahnya. Setelah menyaksikan kejadian tersebut, seluruh rakyat menyatakan keimanannya kepada Allah. Murka, sang raja menggali parit besar dan membakar siapa saja yang beriman. Inilah yang disebut dalam Al-Qur'an sebagai kisah Ashabul Ukhdud:

"Binasalah orang-orang yang membuat parit, yang berapi (dengan) kayu bakar, ketika mereka duduk di sekitarnya, sedang mereka menyaksikan apa yang mereka perbuat terhadap orang-orang yang beriman.(QS. Al-Buruj: 4-7)