- trending-title
- Kelelahan yang Tak Terlihat: Ketika Rasulullah Saw. Menyimpan Luka untuk Umatnya
Perang Yarmuk berkecamuk sangat
hebat. Pasukan muslimin dengan gagah berani melawan musuh. Tak ada yang mereka
harapkan kecuali dua pilihan, yakni kemenangan atau mati syahid.
Peperangan terus berlangsung.
Pedang-pedang saling beradu, kuda-kuda memekik, anak panah melesat. Pasukan
muslimin bertarung tanpa takut ajal. Namun peperangan kali ini berbeda dari
perang-perang sebelumnya. Perang melawan pasukan Romawi tersebut sangat berat
hingga hampir saja pasukan muslimin kalah.
Di saat yang genting, ketika pasukan
Islam hampir mundur, sesosok shahabat Rasulullah turun dari kudanya. Ia
mematahkan sarung pedangnya, lalu maju ke barisan paling depan. Menyemangati
pasukan muslimin lain, ia pun berseru sembari menerobos pasukan Romawi. Sang
shahabat Rasul yang pemberani tersebut ialah Ikrimah bin Abu Jahl.
Seorang putra dari musuh terbesar
Rasulullah tersebut selalu berada di barisan terdepan peperangan,
terhitung sejak ia beriman hingga ajalnya. Ia tak pernah absen dari panggilan
jihad. Tak pernah absen di setiap peperangan. Ialah salah satu prajurit handal
andalan umat Islam.
Saat menerjang pasukan Romawi yang
memiliki peralatan perang tercanggih kala itu, Ikrimah tahu konsekuensinya,
yakni terbunuh di tengah kancah peperangan. Namun saat sahabatnya, sang
panglima kebanggaan umat, Khalid bin Walid melarangnya, Ikrimah tetap maju
tanpa gentar.
“Jangan kau lakukan, Wahai Ikrimah!
Jika kau terbunuh, keadaan akan semakin gawat!” Seru Khalid bin Walid.
Namun Ikrimah tetap maju dengan
berani. “Menjauhlah dariku, Wahai Khalid. Engkau telah lebih dahulu bersama
Rasulullah. Sedangkan aku dan ayahku dahulu adalah orang yang paling keras
permusuhannya kepada beliau shallallahu ‘alaihi wasallam. Pergilah,
tinggalkan aku. Biarkan aku menebus segala kesalahanku dulu. Tidak pantas
bagiku untuk lari dari Romawi. Itu tidak mungkin selama-lamanya!” ujar Ikrimah.
Ternyata keberanian Ikrimah menjadi
pemicu semangat muslimin yang lain. Pasukan yang tadinya hendak mundur
tiba-tiba kembali bergairah untuk meraih predikat mujahid. “Siapa yang bersedia
berbaiat untuk mati?!” seru Ikrimah.
Muncullah Al Harits bin Hisyam yang
turut maju mengikuti langkah Ikrimah. Ia turut menghunuskan pedang dan menembus
pasukan Romawi yang tangguh. Satu per satu muslimin pun turut serta. Hingga 400
pasukan muslimin pun mengikuti keberanian Ikrimah.
Hasilnya, pasukan muslimin meraih
kemenangan. Romawi berhasil dipukul mundur hingga akhirnya menyerah. Muslimin
bergembira dan bersyukur tiada tara.
Namun pemandangan di akhir perang
sangatlah menyedihkan. Selain banyak mujahid yang tewas, ada tiga orang
shahabat Rasulullah yang terbujur lemah penuh luka dan darah. Mereka bukan lain
adalah Ikrimah bin Abu Jahl dan Al Harits bin Hisyam yang gagah berani maju
melawan Romawi, serta seorang shahabat lain yakni Ayyasy bin Abi Rabi’ah
(riwayat lain menyebutkan bukan Ayyasy melainkan Suhail bin Amr).
Dengan tubuh terbujur kaku dan luka
yang tak mampu lagi ditahan, Ikrimah meminta seteguk air. Dibawakanlah untuknya
air minum. Namun ia melihat Al Harits yang juga terbujur lemah tak berdaya. Ia
pun berkata, “Berikan air itu pada Al Harits dulu.”
Maka dibawalah air itu pada Al
Harits. Namun Al Harits melihat Ayyasy menoleh padanya. Al Harits pun meminta
agar Ayyasy lebih dahulu meneguk air segar itu. “Berikan air itu untuknya
saja,” kata Al Harits.
Air itu pun dibawa pada Ayyasy. Namun
sebelum meneguknya, Ayyasy sudah menemui ajal. Maka si pembawa minum itu pun
kembali menuju Ikrimah dan Al Harits agar keduanya dapat meminum air. Namun
terlambat, keduanya pun sudah wafat sebagai mujahid.
Betapa mulianya akhlak para shahabat
Rasulullah. Di saat sakaratul maut pun, mereka masih mengutamakan saudara
seiman daripada diri sendiri. Semoga Allah memberikan ketiganya nikmat
telaga Al Kautsar di surga kelak. Dengannya, mereka tak akan lagi merasa haus
selama-lamanya.