- trending-title
- Kelelahan yang Tak Terlihat: Ketika Rasulullah Saw. Menyimpan Luka untuk Umatnya
Para sahabat memiliki kisah yang
berbeda dalam hal memeluk Islam. Ada sahabat yang langsung memeluk Islam
setelah menerima ajakan dari Nabi Muhammad seperti Abu Bakar as-Shiddiq dan Ali
bin Abi Thalib. Ada yang masuk Islam setelah mendengar lantunan ayat suci
Al-Qur’an seperti Umar bin Khattab. Ada juga yang mengucapkan dua kalimat
syahadat setelah berinteraksi langsung hingga membuatnya terkesan dengan Nabi
Muhammad seperti Adi bin Hatim.
Adi bin Hatim adalah anak al-Jawwad.
Dia adalah penguasa Suku at-Tha’i yang dikenal pemurah. Adi adalah salah
seorang yang membenci dakwah Islam yang disampaikan Nabi Muhammad. Oleh
karenanya, ketika dakwah Islam menyebar ke seluruh penjuru jazirah Arab, Adi
bin Hatim meninggalkan kaumnya dan hijrah ke negeri Syam. Semula, ia tetap
mempertahankan agama nenek moyangnya dan tidak rela menjadi pengikut Nabi
Muhammad.Dari ucapannya tersebut, kebencian Adi bin Hatim kepada Nabi tidak
membuatnya kalap dan menutup mata hatinya. Nyatanya, di akhir perkataannya dia
menegaskan bahwa dirinya akan masuk Islam jika ajaran yang dibawa Nabi benar.
Tidak hanya mengaku-ngaku menjadi Nabi saja.
Hingga suatu ketika, Adi bin Hatim ingin
bertemu dengan Nabi Muhammad dan pergi ke Madinah. Ia ingin memastikan
kebenaran Nabi Muhammad secara langsung. Sesampai di Masjid Nabawi, Adi
menyampaikan salam dan kemudian dijawab Nabi. Dia langsung memperkenalkan diri
setelah Nabi Muhammad bertanya perihal identitasnya. Nabi lalu mengajak Adi
pergi ke rumahnya, yang notabennya hanya beberapa jengkal saja dari Masjid Nabawi.
Di tengah jalan, ada seorang wanita tua yang meminta Nabi Muhammad berhenti.
Nabi pun berhenti beberapa saat. Wanita tua tersebut langsung menyampaikan
beberapa kebutuhannya kepada Nabi. Melihat kejadian itu, Adi bin Hatim merasa
terheran-heran. Dia membatin, bagaimana mungkin seorang raja berperilaku
seperti itu. Tidak ada jarak dengan rakyat jelata. Keheranan Adi bin Hatim
berlanjut. Saat sampai di rumah Nabi, ia diberikan bantal sebagai tempat duduk,
sementara Nabi duduk di tanah tanpa bantal karena memang bantalnya cuma satu.
Bagi Nabi, Adi bin Hatim yang merupakan tamunya adalah yang utama. Lagi-lagi
Adi bin Hatim membatin, apa yang dilakukan Nabi tersebut bukanlah kebiasaan
para raja. Adi adalah seorang elit di kaumnya. Ia mengira akan mendapatkan
sesuatu yang berharga di kediaman Nabi Muhammad. Namun, perkiraannya tersebut
meleset. Apa yang didapatinya begitu berbeda dengan apa yang dibayangkannya.
Dan Nabi Muhammad bukanlah seperti ‘raja’ yang diduganya. Karena memang
kebiasaan raja-raja adalah gila harta dan gila penghormatan.
Setelah itu, terjadi tanya-jawab
antara Nabi Muhammad dan Adi bin Hatim. Adi bin Hatim menjawab tidak tahu
ketika Nabi menanyakan perihal tuhan selain Allah dan tuhan yang lebih besar
dari pada Allah. Nabi lalu bertanya perihal agama yang dianut Adi bin
Hatim, Rukusiya –agama perpaduan antara Nasrani dan Shabiiyyah, praktik mirba
di kaumnya –praktik jahiliyah dimana seorang pemimpin berhak mendapatkan
seperempat harta ghanimah. Adi bin Hatim membenarkan semua perkataan Nabi Muhammad
itu. Nabi Muhammad kemudian menyampaikan tiga hal yang menghalangi Adi bin
Hatim masuk Islam.
Pertama, penganut ajaran Islam saat
itu miskin-miskin. Nabi meyakinkan bahwa tidak lama lagi umat Islam akan
memiliki harta yang berlimpah ruah sehingga tidak ada seorang pun yang miskin.
Perkataan Nabi ini terbukti pada zaman Khalifah Umar bin Abdul Azis, dimana
saat itu tidak ada seorang pun yang berhak menerima zakat karena umat Islam
sudah sejahtera.
Kedua, jumlah umat Islam sedikit,
sementara musuhnya lebih banyak. Terkait hal ini, Nabi Muhammad juga meyakinkan
kepada Adi bin Hatim bahwa sebentar lagi akan ada berita mengenai seorang
wanita yang berangkat dengan mengendarai unta dari Qadisiyyah ke Baitullah
Makkah tanpa rasa takut. Lag-lagi apa yang dikatakan Nabi ini menjadi
kenyataan. Ketika umat Islam menguasai wilayah tersebut, maka seseorang bisa
bepergian dengan aman karena tidak ada lagi penyamun.
“(Ketiga) yang menglangimu masuk agama ini
adalah engkau menyaksikan bahwa raja dan penguasa bukanlah dari kalangan
mereka. Demi Allah, sebentar lagi engkau akan mendengar berita mengenai
istana-istana putih dari Babilonia yang kutaklukkan,” kata Nabi. Sesaat setelah
itu Adi bin Hatim mengikrarkan diri memeluk Islam.