- trending-title
- Kelelahan yang Tak Terlihat: Ketika Rasulullah Saw. Menyimpan Luka untuk Umatnya
Sumber: Faisal Basri
Umar
bin Khattab, salah seorang sahabat Rasulullah paling terkemuka, bertemu dengan
seorang pengembala domba. Umar RA menguji sang pengembala. “Bolehkan aku
membeli seokor domba yang engkau gembalai? Sang pengembala menjawab:
“domba-domba ini milik majikanku.” Umar RA: “Betapa banyak domba yang engkau
gembalai. Kalau satu saja aku beli, niscaya majikanmu tidak akan mengetahuinya.
Kalaupun majikanmu mengetahui dombanya kurang satu, katakan saja dimakan
srigala.” Sang pengembala menatap wajah Amirulmukminin seraya berkata:
“Kalaulah majikanku tidak mengetahui, sesungguhnya Allah mengetahuinya.”
Khalifah Umar berlinangan airmata, lalu ia peluk pengembala hamba sahaya itu.
Itulah
sosok berintegritas.
Suku
Samin memiliki nilai-nilai yang terun temurun. Orang Samin pantang mencelakakan
dan merebut hak orang lain. Ajarannya tidak membolehkan iri hati, usil terhadap
orang lain, apalagi berbohong. Harus jujur terhadap orang lain dan diri
sendiri.
Itulah
unsur-unsur manusia berintegritas.
Pedagang
yang mempermainkan timbangan adalah pedagang tak berintegritas. Menutup-nutupi
cacat barang dagangan demikian pula. Pengusaha yang membayar upah pekerjanya
ketika peluh sudah lama kering dan nilainya tidak patut sama saja dengan
praktek eksploitasi.
Perusahaan
yang tidak membayar pajak dengan benar sama saja dengan pencoleng. Juga kalau
melakukan mark up atau menimbun barang dagangan atau bersekongkol
mengatur harga dan kuantitas di pasar untuk mengeruk laba tak wajar dengan cara
“merampok” surplus konsumen. ““There should not be tension between making
profits and adhering to traditional principles of decency and fairness, pesan
Jon M. Huntsman dalam bukunya Winners Never Cheat.
Umar
bin Abdul Azis terkenal sebagai pemimpin yang berintegritas. Sebagai pemimpin,
integritas tertingginya adalah menegakkan keadilan tanpa pandang bulu. Khalifah
yang masih keturunan Umar bin Kattab ini melakukan reformasi birokrasi radikal,
antara lain merampas kembali harta kekayaan khalifah sebelumnya yang didapat
dengan menyalahgunakan kekuasaan dan mengembalikannya ke baitul mal, memecat
pegawai yang tidak cakap akibat KKN dan mengangkat pejabat-pejabat yang
kompeten, tidak menikmati fasilitas negara, mengutamakan penigkatan
kesejahteraan golongan masyarakat yang lemah, serta tidak memupuk kekayaan
untuk diri dan keluarganya. Selama kurun waktu pemerintahannya yang singkat,
tak sampai tiga tahun, Umar bin Abdul Azis berhasil menyejahterakan rakyatnya,
sehingga baitul mal penuh dengan timbunan harta zakat karena tak seorang pun
merasa berhak menerima zakat. Bukan karena rakyatnya sudah amat makmur,
melainkan karena segala kebutuhan pokok rakyat terpenuhi dan kebahagiaan dunia
akhirat telah merasuk dalam hati sanubari rakyat—sebagai wujud bersyukur kepada
Sang Pencipta atas apa yang telah mereka peroleh.
Integritas
mengandung makna sangat dalam dan multidimensional. Oleh karena itu sosoknya
hadir dalam setiap komunitas dan jenjang dalam benbagai bentuk, dari yang
paling sederhana sampai yang paling kompleks. Integritas bisa melekat pada diri
seorang pengembala, buruh rendahan, profesional, ibu rumah tangga, ayah kepala
keluarga, pengusaha maupun penguasa dari jenjang terendah hingga tertinggi.
Juga
bisa melekat pada perusahaan, sekolah, lembaga nonpemerintah atau NGO.
Integritas pada organisasi-organisasi itu menjelma dengan istilah good
corporate governance, kredibilitas dan akuntabilitas. Terbukti dari kajian
ilmiah, perusahaan-perusahaan yang menyandang good corporate governance,
harga sahamnya memperoleh harga premium sekitar 10 persen di atas harga rerata
perusahaan yang terjaring sebagai sampel penelitian. Sebaliknya, sangat kasat
mata perusahaan-perusahaan yang tata kelolanya buruk harga sahamnya tidak
kunjung melebihi tingkat tetinggi sebelumnya setelah mengalami kemerosotan
akibat krisis. Saham perusahaan-perusahaan itu mendapat julukan saham gorengan.
Harganya tersudut mendekati nol rupiah.
Sosok-sosok
pribadi yang tidak berintegritas berpotensi mengalami nasib malang dalam
perjalanan hidupnya jika tidak mau berbenah diri. Bagi yang hanya memikirkan diri
sendiri, tidak memupuk modal sosial atau tidak peduli terhadap
sekelilingnya—apalagi terhadap kelompok masyarakat yang lemah—sangat berpotensi
mengalami ekslusi sosial, tidak ada yang menolong ketika menghadapi kesulitan,
dan ketika tiba ajalnya tak banyak sanak famili dan handai taulan yang
mengantarkan jasadnya ke penguburan.
Sosok
yang berintegritas boleh jadi hidup tak bergelimangan harta tetapi selalu
terpenuhi kebutuhan hidupnya taktaka dibutuhkan. Tumpukan uang dan harta benda
yang disimpan di safe deposit box atau dipamerkan di rumah mewah
belumlah menjadi rezeki. Baru menjadi rezeki jika kita sudah mengonsumsinya
atau masuk ke dalam tubuh kita dan menikmatinya dengan penuh bahagia.