- trending-title
- Kelelahan yang Tak Terlihat: Ketika Rasulullah Saw. Menyimpan Luka untuk Umatnya
Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi
wasallam adalah seorang manusia berkebangsaan Arab yang dipilih oleh Allah
untuk menerima anugerah yang agung itu. Ia dijadikan-Nya sebagai penutup segala
nabi dan rasul, dengan membawa syariat yang sempurna yang bersifat kekal dan
abadi. Ajarannya berlaku untuk semua umat manusia dalam berbagai ras, bangsa
dan warna kulit. Ia merupakan risalah agama yang sempurna yang membangun
peradaban yang tinggi bagi seluruh umat manusia. Sebelum kelahiran Nabi
Muhammad, keadaan bangsa Arab dan bangsa-bangsa lain diliputi oleh kebodohan
dan kejahilan. Mereka adalah bangsa yang menganut paganisme, penyembah patung
dan berhala, padahal nenek moyang mereka berasal dari pengikut ajaran tauhid
yang disampaikan oleh Nabi Ismail ‘alaihissalam. Suasana keberhalaan dan
kemusyrikan sudah menyatu dan mendarah daging pada jiwa mereka. Sehingga
Masjidil Haram yang suci itu menjadi ternoda dengan bergelantungnya
berhala-berhala dan patung.
Di sekeliling Ka’bah yang berada di tengah-tengah Masjidil Haram ada kurang
lebih 360 patung dan berhala yang mereka sembah. Setiap suku memiliki patung
tersendiri sebagai sembahan dan perantara untuk mendekatkan diri kepada Tuhan
Yang Maha Esa. Keadaan seperti itu telah mengotori Masjid dan kesucian Ka’bah
dalam menjalani pelaksanaan ibadah yang murni kepada Allah. Kaum musyrikin
menjadikan patung-patung itu sebagai Tuhan-tuhan mereka. Untuk patung-patung
itu hewan dikurbankan dan nadzar ditunaikan, mereka memberikan ketaatan yang
total pada patung-patung itu. Keadaaan seperti itulah yang mereka jalani
meskipun apabila mereka ditanya “Siapa Tuhan yang mereka sembah”. Mereka menjawab
“Tuhan kami adalah Allah, kami tidak menyembah patung-patung itu kecuali hanya
perantara untuk mendekatkan diri kepada-Nya dengan taqarub yang amat dekat”
(QS. Al-Zumar, 39: 3).
Dalam suasana yang sangat kacau penuh kesesatan yang disebut zaman jahiliyyah
itu, terjadilah pernikahan agung, antara Abdullah bin Abdul Muthalib bin Hasyim
al-Quraisyi dengan Aminah binti Wahab. Dari pernikahan yang mulia itu, Allah
menakdirkan lahirnya manusia yang paling agung dalam sejarah dunia, yaitu Nabi
Besar Muhammad pada hari senin tanggal 12 Rabiul Awwal Tahun Gajah, bertepatan
dengan 20 April 570 M. Ketika Nabi masih berada dalam kandungan ibunya. Pada
suatu saat ibundanya Siti Aminah, melihat cahaya yang terang benderang dari
dirinya dan menerangi istana Kisra di negeri Syam. Ayah Nabi Muhammad Sayyid Abdullah
bin Abdul Muthalib meningal dunia ketika beliau masih ada dalam kandungan
ibunya.
Beberapa bulan setelah itu berbahagialah Sayyidah Aminah ibunda Nabi Muhammad
dan Abdul Mutahalib, kakeknya atas kelahirannya yang diberi nama Muhammad,
karena ia akan menjadi orang yang sangat terpuji di masa yang akan datang.
Inilah manusia yang paling agung dan paling berpengaruh dalam sejarah
kemanusiaan. Petunjuk telah lahir dan alam pun telah menjadi terang bercahaya.
Zaman menyambut kelahirannya dengan senyum ceria. Muhammad kecil dipelihara
oleh ibunya dan kemudian disusukan kepada Halimah al-Sa’diyah kaum Bani Sa’ad
dari Bani Zuhrah sampai susuannya berakhir, kemudian kembali kepangkuan
ibundanya atas tanggungan kakeknya Abdul Muthalib. Ketika umur beliau mencapai
usia 6 tahun, ketika ia mulai menanyakan ayahnya kepada ibundanya yang amat
dicintainya, sampailah informasi padanya tentang kewafatan ayahnya. Ketika ia
masih berada dalam kandungan, maka ia pun sadar bahwa dirinya adalah anak
yatim. Pada usia itu beliau diajak ibundanya Aminah untuk berziarah ke Yastrib
mengunjungi saudar-saudara kakeknya dari keluarga Najjar. Perjalanan ke Yatsrib
ditemani Ummu Aiman seorang pembantu wanita yang disiapkan Abdullah sebelum
beliau wafat. Sampai di Madinah, Muhammad kecil diajak berziarah ke suatu rumah
tempat ayahnya dahulu meninggal, serta berziarah ke tempat kuburan ayahnya.
Suasana itu dirasakan begitu berat dan mengharukan, apalagi bagi Muhammad kecil
yng telah menjadi yatim. (Husein Haikal, 1998: 54).
Setelah beberapa lama tinggal di Madinah, Aminah, Muhammad, dan Ummu Aiman
bersiap-siap untuk pulang ke Makkah. Dalam perjalanan pulang, ketika mereka
sampai di kampung Abwa’, ibunda Aminah merasa sakit, yang kemudian meninggal
dunia dan dikuburkan di tempat itu juga. Muhammad kecil kembali menghadapi
cobaan yang sangat berat, ibarat luka belum sembuh karena ditinggalkan
ayahahandanya, tergores luka baru dengan wafatnya ibunda yang sangat
dicintainya. Muhammad kini menjadi seorang yang yatim dan piatu dalam usia 6
tahun. Kemudian Ummu Aiman membawanya pulang ke Makkah. Anak itu pulang sambil
menangis dengan hati yang perih, hidup sebatang kara. Baru beberapa hari yang
lalu ia menyaksikan rumah tempat ketika ayahnya wafat dan kuburan ayahnya, kini
ia melihat sendiri di hadapannya, ibundanya pergi, wafat tidak kembali untuk
selama-lamanya. Anak yang masih amat kecil itu mendapat cobaan yang sangat
berat, memikul beban hidup yang memilukan, sebagai seorang anak yang yatim dan
piatu. Dua tahun setelah beliau berada dalam asuhan dan bimbingan kakeknya
Abdul Muthalib pun wafat. Sebelum meninggal dunia, Abdul Muthalib menyerahkan
cucunya kepada anaknya yang sekaligus paman Nabi, yaitu Abu Thalib. Kemudian
merawatnya dengan penuh kasih sayang. Ketika di Makkah Muhammad kecil
dipelihara kakeknya Abdul Muthalib. Kakeknya sangat mencintainya, ia
memeliharannya dengan penuh kasih sayang, sungguhpun demikian, peristiwa sedih
sebagai anak yatim piatu itu bekasnya masih mendalam sekali pada jiwanya,
sehingga dalam al-Qur’an disebutkan: “Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang
yatim, lalu Dia melindungimu?” (QS. al-Dhuha, 93: 6). Dr. KH. Zakky Mubarak,
MA, Rais Syuriyah PBNU
Sumber : islam.nu.or.id