- trending-title
- Kelelahan yang Tak Terlihat: Ketika Rasulullah Saw. Menyimpan Luka untuk Umatnya
Kekuatan akan penerapan aqidah
sangatlah mempengaruhi perasaan seseorang dalam menjalani hidup. Ia akan
menjadi sangat tenang dalam menjalani hidup dan meliki keyakinan bahwa
aqidahlah yang menjadikan hidpunya baik. Ketika ia berbuat salah maka akan
timbul perasaan dihatinya untuk siap menerima konsekuensi atas perbutaanya
seperti kisah sahabat nabi yang bernama Ka’ab bin Malik. Beliau tak ikut perang
dan menerima konsekuensi tersebut dengan lapang dada tanpa perasaan kecewa
terhada Rasulullah. Berikut kisahnya yang dikutip dari detik.com
Salah satu perang kenamaan di masa
Rasulullah adalah Perang Tabuk. Perang ini terjadi pada tahun kesembilan
Hijriah, tepatnya pada bulan Rajab. Berdasarkan beberapa riwayat, seperti dalam
kitab Sirah Nabawiyyah karya Ibnu Hisyam, perang ini merupakan perang yang
berat karena cuaca yang kering, keadaan paceklik, serta lokasi peperangan yang
jauh. Kisah berikut disarikan dari keterangan kitab tersebut.
Di antara rombongan umat muslim itu,
tersebutlah Kaab bin Malik yang tidak ikut serta dalam keberangkatan menuju
Perang Tabuk. Sebelumnya, Kaab bin Malik dikenal di kalangan sahabat sebagai
orang yang terpercaya, golongan orang-orang yang pertama masuk Islam, dan
selalu mengikuti perang bersama Nabi. Orang-orang tidak meragukan keimanannya. Sayangnya,
pada perang Tabuk ini, Kaab bin Malik ketinggalan rombongan sebab
keterlambatannya dalam menyiapkan perbekalan. Saat Kaab masih bingung dalam
persiapan menuju medan perang Tabuk, ternyata Nabi dan sahabat lain sudah
bergegas menuju medan peperangan.
Kaab bin Malik pun gelisah karena
keterlambatannya ini. Ia mengetahui bahwa ketika ada umat muslim yang mangkir
dari perang, dan bukan disebabkan alasan yang dapat dipertanggungjawabkan, maka
hal tersebut adalah termasuk dosa yang besar.
Dalam kegelisahannya itu, ketika
keluar rumah, ia menemui bahwa yang masih berada di sekitar lingkungannya
adalah orang-orang yang bermaksud mangkir dari peperangan – konon disebut kaum
yang munafik – dan orang-orang lemah yang tidak mampu berperang.
Di sisi lain, seusai perang, Rasulullah
SAW baru menyadari bahwa Kaab bin Malik tidak ikut serta dalam perang Tabuk
itu. Ia menanyakan pada para sahabat, "Kemanakah Kaab bin Malik?". Kemudian
ada yang mengatakan, konon seorang sahabat dari Bani Salimah, mempertanyakan
jangan-jangan Kaab ini mementingkan dirinya sendiri. Tapi langsung ia didamprat
oleh sahabat Muadz bin Jabal ra.
"Perkataanmu buruk sekali! Tidak
pantas kau katakan itu atas Kaab bin Malik!"
Kaab menjadi resah saat ia tahu bahwa
ia tertinggal dan absen dari perang. Hal yang ia resahkan, adalah bagaimana ia
akan berujar pada Nabi tentang keadaan yang menimpanya. Sempat ada hasrat
berbohong, tapi ia urungkan.
Setibanya Nabi di Madinah, lalu
menunaikan sembahyang sebagaimana beliau amalkan seusai perang, orang-orang
yang tidak mengikuti perang mendatangi beliau dan menyampaikan alasan-alasan
mereka. Disebutkan kurang lebih delapan puluh orang. Nabi menerima alasan
mereka, dan mengatakan bahwa beliau menyerahkan urusan kebenaran dalam hati
mereka dengan Allah. Kaab bin Malik pun menjadi rikuh.
Ia beranikan diri mendatangi Nabi,
lantas berkata dengan jujur.
Allah dan Rasul-Nya yang
mengetahui tentang hal itu,"
Kaab bin Malik semakin kesulitan.
Kemudian pada hari keempat puluh, Nabi menambahkan bahwa Kaab bin Malik dan dua
sahabat lainnya yang tidak ikut perang tersebut diminta untuk tidak mendekati
istri-istri mereka. Tak terasa, hukuman itu terjadi sampai lima puluh hari.
Pada hari kelima puluh itu, Kaab bin Malik melakukan salat sebelum fajar,
lantas mengadukan masalahnya kepada Allah.
"Kaab!" Terdengar suara
Nabi memanggil. Kaab bin Malik terkejut.
"Sungguh, ampunan Allah sudah
tiba untuk kalian bertiga!” terang Rasulullah berseri-seri.
Kemudian Rasulullah menyebutkan tiga
ayat dari surat At Taubah, yaitu ayat 117 sampai 119 yang menjelaskan tentang
ampunan Allah untuk mereka bertiga.
Kaab merasakah bahagia, yang dalam
riwayat disebutkan bahwa ia tak pernah sebahagia itu sejak dilahirkan ibunya.
Kejujurannya berbuah manis, meski ia harus menanggung konsekuensi atas alasan
yang ia sampaikan akibat keterlambatannya mengikuti perang.
Dan memang diriwayatkan bahwa alasan keteledoran mereka itu, bukanlah bermaksud untuk berpaling dari kewajiban perang, sehingga Allah mengampuni mereka bertiga. Setiap kejujuran memang sering berimbas pahit, namun bagaimanapun, ia adalah sikap berani mempertanggungjawabkan kesalahan, sebagaimana dicontohkan Kaab bin Malik dan dua sahabat itu.