- trending-title
- Kelelahan yang Tak Terlihat: Ketika Rasulullah Saw. Menyimpan Luka untuk Umatnya
Perang adalah jalan terakhir
Rasulullah dalam berdakwah. Paparan ini disampaikan oleh Pembina Arus Informasi
Santri (AIS) Banten M Hubab Nafi’ Nu’man Rohmatulloh yang dikutip dari laman
Nu.or.id. Beliau mengatakan, Rasulullah merupakan orang yang paling
sukses mendakwahkan agama Allah dibandingkan nabi dan rasul sebelumnya. Hanya
dalam kurun waktu 23 tahun, Rasulullah berhasil mengubah peradaban jahiliyah
yang penuh dengan kemusyrikan dan kekufuran menjadi peradaban islamiyah.
Lalu apa apa sebetulnya strategi dan
metode dakwah yang diterapkan Rasulullah sehingga sukses seperti itu? Hubab
menjelaskan, Rasulullah berdakwah dengan cara lemah lembut, tidak dengan ucapan
dan sikap yang kasar dan keras. Sebagaimana diterangkan dalam Surat Ali Imran:
159,
فَبِمَا
رَحۡمَةٖ مِّنَ ٱللَّهِ لِنتَ لَهُمۡۖ وَلَوۡ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ ٱلۡقَلۡبِ
لَٱنفَضُّواْ مِنۡ حَوۡلِكَۖ فَٱعۡفُ عَنۡهُمۡ وَٱسۡتَغۡفِرۡ لَهُمۡ وَشَاوِرۡهُمۡ
فِي ٱلۡأَمۡرِۖ فَإِذَا عَزَمۡتَ فَتَوَكَّلۡ عَلَى ٱللَّهِۚ إِنَّ ٱللَّهَ
يُحِبُّ ٱلۡمُتَوَكِّلِينَ ١٥٩
Maka berkat rahmat Allah engkau
(Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap
keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu. Karena
itu maafkanlah mereka dan mohonkanlah ampunan untuk mereka, dan
bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian, apabila engkau telah
membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sungguh, Allah mencintai
orang yang bertawakal.
Jikalau seandainya Rasulullah
berdakwah dengan keras maka orang kafir akan semakin menjauh. “Nabi
Muhammad saw. itu sebelum hijrah ke Madinah dilarang untuk berjihad atau
berperang dan diperintahkan agar beliau dan para pengikutnya bersabar atas
penderitaan yang diterima dari orang-orang kafir,” kata Hubab sebagaimana
diuraikan kitab Mughnil Muhtaj kepada NU Online, Rabu (24/10).
Setelah hijrah ke Madinah, imbuhnya,
Rasulullah baru diperintahkan untuk berperang melawan orang-orang kafir. Meski
demikian, Rasulullah dan kaum Muslim diperbolehkan berperang manakala
orang-orang kafir yang menyerang terlebih dahulu. Menurut dia, Jihad atau
perang itu bukan tujuan utama dan bukan pula jalan utama dalam Dakwah Nabi
Muhammad saw., melainkan hanya perantara saja.
“Apabila mereka bisa mendapatkan
hidayah dan mau mengucapkan dua kalimat syahadat dengan tanpa peperangan, tapi
dengan mengemukakan argumen dalil-dalil agama Islam maka itulah yang lebih baik
daripada jihad atau perang,” kata Kordinator PKPNU Provinsi Banten ini.
Tercatat, jumlah peperangan yang
pernah diikuti Nabi Muhammad saw. adalah 27 perang, termasuk Perang Badar dan
Perang Uhud. Dikutip dari buku Perang Muhammad: Kisah Perjuangan dan
Pertempuran Rasulullah, ada tiga alasan Rasulullah berperang. Pertama, melayani
serangan musuh seperti Perang Badar, Uhud, dan Khandak. Kedua, memberi
pelajaran terhadap musuh yang mencari gara-gara atau mengkhianati perjanjian
bersama. Seperti Perang Khaibar, Mu’tah, dan lainnya. Ketiga, menggagalkan
rencana musuh yang mengancam kaum Muslim seperti Perang Tabuk.