- trending-title
- Kelelahan yang Tak Terlihat: Ketika Rasulullah Saw. Menyimpan Luka untuk Umatnya
Pintu Taubat Dibuka Lebar
Sungguh Allah Ta’ala telah
melapangkan dan melonggarkan serta memberi kesempatan yang seluas-luasnya
kepada kita untuk bertaubat kepada-Nya. Rasulullah Shallallahu’alaihi
Wasallam bersabda:
إِنَّ اللهَ يَبْسُطُ
يَدَهُ بِاللَّيْلِ لِيَتُوْبَ مُسِيْءُ النَّهَارِ ، وَبِالنَّهَارِ لِيَتُوْبَ
مُسِيْءُ اللَّيْلِ
“Sungguh, Allah meluaskan tangan-Nya
pada malam hari untuk menerima taubat dari hamba yang bermaksiat di siang hari.
Dan Allah meluaskan tangan-Nya pada siang hari untuk menerima taubat dari hamba
yang bermaksiat di malam hari” (HR. Muslim no.7165)
Rasulullah Shallallahu’alaihi
Wasallam juga bersabda:
إِنَّ اللهَ يَقْبَلُ
تَوْبَةَ الْعَبْدِ مَا لمَ ْيُغَرْغِرْ
“Sungguh Allah menerima taubat
hamba-Nya selama nyawa belum sampai di kerongkongan” (HR. At Tirmidzi, 3880. Ia
berkata: “Hadits ini hasan gharib”. Di-hasan-kan oleh Al Albani dalam Shahih
Sunan At Tirmidzi).
Kemudian Rasulullah Shallallahu’alaihi
Wasallam juga telah mengabarkan kepada kita kisah seorang lelaki yang
telah membunuh 99 orang:
فَدُلَّ عَلَى
رَاهِبٍ فَأَتَاهُ فَقَالَ إِنَّهُ قَتَلَ تِسْعَةً وَتِسْعِينَ نَفْسًا فَهَلْ
لَهُ مِنَ تَوْبَةٍ فَقَالَ لاَ. فَقَتَلَهُ فَكَمَّلَ بِهِ مِائَةً ثُمَّ سَأَلَ
عَنْ أَعْلَمِ أَهْلِ الأَرْضِ فَدُلَّ عَلَى رَجُلٍ عَالِمٍ فَقَالَ إِنَّهُ
قَتَلَ مِائَةَ نَفْسٍ فَهَلْ لَهُ مِنْ تَوْبَةٍ فَقَالَ نَعَمْ وَمَنْ يَحُولُ
بَيْنَهُ وَبَيْنَ التَّوْبَةِ
“Lelaki tersebut ditunjukkan kepada
seorang ahli ibadah, ia mendatanginya dan bertanya: ‘Aku telah membunuh 99
orang. Apakah aku masih bisa bertaubat?’. Ahli ibadah tadi berkata: ‘Tidak’.
Lelaki tersebut pun membunuhnya hingga genaplah 100 orang. Kemudian ia bertanya
kepada penduduk yang paling alim, dan ia pun ditunjukkan kepada seorang ulama.
Ia kemudian bertanya: ‘Aku telah membunuh 100 orang. Apakah aku masih bisa
bertaubat?’. Ulama tadi berkata: ‘Ya. Memangnya siapa yang bisa menghalangimu
untuk mendapatkan taubat?’” (HR. Muslim, no.7184)
Maka siapakah yang bisa menghalangi
anda dari taubat, saudaraku? Kesempatan selalu terbuka lebar!
Allah Ta’ala berfirman:
إِنَّ اللَّهَ لَا
يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ
“Sesungguhnya Allah tidak akan
mengampuni dosa syirik dan mengampuni dosa selain syirik bagi siapa yang Allah
kehendaki” (QS. An Nisa: 48)
Bahkan dosa syirik! Ketika
seorang musyrik bertaubat kepada Allah dan ia kembali ke jalan Allah Ta’ala,
maka tidak ada yang dapat menghalangi ia dari Allah. Bahkan, Rasulullah Shallallahu’alaihi
Wasallam mengabarkan bahwa orang musyrik dari kalangan ahlul kitab yang
bertaubat, ia mendapat dua pahala dari taubatnya.
Mengulang Dosa Setelah Taubat
Memang demikianlah sifat dasar
manusia, berbuat kesalahan tidak hanya sekali namun berkali-kali.
Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:
كُلُّ ابْنِ آدَمَ
خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ
“Setiap manusia pasti banyak berbuat
salah, dan sebaik-baik orang yang berbuat salah adalah orang yang sering
bertaubat” (HR. Tirmidzi no.2687. At Tirmidzi berkata: “Hadits ini gharib”.
Di-hasan-kan Al Albani dalam Al Jami Ash Shaghir, 291/18).
Perhatikan dalam hadits ini digunakan
kata خطاء yang artinya: banyak berbuat salah. Namun
kata Nabi setelah itu, “sebaik-baik orang yang berbuat salah adalah orang yang
sering bertaubat”. Ini isyarat bahwa orang yang dosanya banyak, termasuk orang
yang mengulang dosa yang sama setelah taubat, tetap akan diterima taubatnya.
Juga dalam sebuah hadits shahih
disebutkan:
أإِنَّ عَبْدًا
أَصَابَ ذَنْبًا فَقَالَ يَا رَبِّ إِنِّى أَذْنَبْتُ ذَنْبًا فَاغْفِرْ لِى
فَقَالَ رَبُّهُ عَلِمَ عَبْدِى أَنَّ لَهُ رَبًّا يَغْفِرُ الذَّنْبَ وَيَأْخُذُ
بِهِ فَغَفَرَ لَهُ ثُمَّ مَكَثَ مَا شَاءَ اللَّهُ ثُمَّ أَصَابَ ذَنْبًا آخَرَ
وَرُبَّمَا قَالَ أَذْنَبَ ذَنْبًا آخَرَ فَقَالَ يَا رَبِّ إِنِّى أَذْنَبْتُ
ذَنْبًا آخَرَ فَاغْفِرْ لِى قَالَ رَبُّهُ عَلِمَ عَبْدِى أَنَّ لَهُ رَبًّا
يَغْفِرُ الذَّنْبَ وَيَأْخُذُ بِهِ فَغَفَرَ لَهُ ثُمَّ مَكَثَ مَا شَاءَ اللَّهُ
ثُمَّ أَصَابَ ذَنْبًا آخَرَ وَرُبَّمَا قَالَ أَذْنَبَ ذَنْبًا آخَرَ فَقَالَ يَا
رَبِّ إِنِّى أَذْنَبْتُ ذَنْبًا آخَرَ فَاغْفِرْ لِى فَقَالَ رَبُّهُ عَلِمَ
عَبْدِى أَنَّ لَهُ رَبًّا يَغْفِرُ الذَّنْبَ وَيَأْخُذُ بِهِ فَقَالَ رَبُّهُ
غَفَرْتُ لِعَبْدِى فَلْيَعْمَلْ مَا شَاءَ
“Ada seorang hamba yang berbuat dosa
lalu ia berkata: ‘Ya Rabbi, aku telah berbuat dosa, ampunilah aku’. Lalu Allah
berfirman: ‘Hambaku mengetahui bahwa ia memiliki Rabb yang mengampuni dosa’.
Lalu dosanya diampuni. Dan berjalanlah waktu, lalu ia berbuat dosa lagi. Ketika
berbuat dosa lagi ia berkata: ‘Ya Rabbi, aku telah berbuat dosa lagi, ampunilah
aku’. Lalu Allah berfirman: ‘Hambaku mengetahui bahwa ia memiliki Rabb yang
mengampuni dosa’. Lalu dosanya diampuni. Dan berjalanlah waktu, lalu ia berbuat
dosa lagi. Ketika berbuat dosa lagi ia berkata: ‘Ya Rabbi, aku telah berbuat
dosa lagi, ampunilah aku’. Lalu Allah berfirman: ‘Hambaku mengetahui bahwa ia
memiliki Rabb yang mengampuni dosa’. Lalu dosanya diampuni. Lalu Allah
berfirman: ‘Aku telah ampuni dosa hamba-Ku, maka hendaklah ia berbuat
sesukanya’” (HR. Bukhari no. 7068).
Dalam Fathul Baari dijelaskan
Ibnu Hajar Al Asqalani berkata: “Makna dari firman Allah ‘Aku telah ampuni dosa
hamba-Ku, maka hendaklah ia berbuat sesukanya‘ adalah: ‘Selama engkau selalu
bertaubat setiap kali bermaksiat, Aku telah ampuni dosamu’”. Beliau juga
membawakan perkataan Imam An Nawawi: “Jika seseorang berbuat dosa seratus
kali, seribu kali, atau bahkan lebih banyak, dan setiap berbuat dosa ia
bertaubat, maka taubatnya diterima. Bahkan jika dari ribuan perbuatan dosa tadi
setelahnya ia hanya sekali bertaubat, taubatnya pun diterima” (Fathul Baari,
89/21).
Apakah Ini Kabar Gembira Untuk Ahli
Maksiat?
Tentu ini bukan angin segar untuk
terus berbuat maksiat. Karena seseorang bermaksiat hendaknya ia sadari bahwa
belum tentu ia mendapatkan taufiq untuk bertaubat nasuha setelah maksiat dan
belum tentu ia mati dalam keadaan sudah bertaubat. Rasulullah Shallallahu’alaihi
Wasallam bersabda:
إِنَّمَا الأَعْمَالُ
بِخَوَاتِيمِهَا
“Sungguh setiap amal tergantung pada
bagian akhirnya” (HR. Bukhari no. 6493).
Rasulullah Shallallahu’alaihi
Wasallam juga bersabda:
الرجلَ ليعمل الزمنَ
الطويلَ بعمل أهلِ الجنَّةِ ، ثم يُختَمُ له عملُه بعمل أهلِ النَّارِ ، و إنَّ
الرجلَ لَيعمل الزمنَ الطويلَ بعملِ أهلِ النَّارِ ثم يُختَمُ [ له ] عملُه بعمل
أهلِ الجنَّةِ
“Ada seseorang yang ia sungguh telah
beramal dengan amalan penghuni surga dalam waktu yang lama, kemudian ia menutup
hidupnya dengan amalan penghuni neraka. Dan ada seseorang yang ia sungguh telah
beramal dengan amalan penghuni neraka dalam waktu yang lama, lalu ia menutup
hidupnya dengan amalan penghuni surga” (HR. Al Bukhari no. 2898, 4282, Muslim
no. 112, 2651).
Maka teruslah istiqamah menjauhi
maksiat dan terus bertaubat kepada Allah, semoga kita dimatikan di atas
kebaikan.
Wallahu a’lam.