- trending-title
- Kelelahan yang Tak Terlihat: Ketika Rasulullah Saw. Menyimpan Luka untuk Umatnya
"Jihad adalah jalan kami, dan mati di jalan Allah adalah cita-cita kami tertinggi."
— Semboyan Ikhwanul Muslimin yang dihidupi Sayyid Qutb sampai akhir hayatnya.
Masa Muda: Dari
Pena ke Jalan Dakwah
Sayyid Qutb lahir di Mesir Hulu, tahun 1906, di tengah
masyarakat agraris yang terjajah secara politik dan tercerabut dari akar Islam.
Sejak kecil ia dikenal cerdas, penuh semangat belajar, dan memiliki kepekaan
sosial yang tinggi. Ia tumbuh sebagai intelektual modern, menyelesaikan studi
hingga ke Amerika Serikat.
Namun justru di negeri adidaya itulah ia menyaksikan
apa yang disebutnya sebagai jahiliyah modern. Kecanggihan teknologi
ternyata menyisakan kekosongan ruhani. Kebebasan yang diagungkan hanyalah
kebebasan nafsu. Kesadaran ini menggetarkan jiwanya. Di sanalah titik balik
terjadi — ia kembali ke Mesir bukan sekadar sebagai sarjana, tetapi sebagai
mujahid pemikir.
Ia tidak lagi menulis puisi cinta atau kritik sastra
biasa. Ia menulis tentang Islam sebagai sistem hidup. Ia bicara tentang
kebangkitan umat. Ia menghidupkan kembali obor jihad — bukan sekadar jihad fisik,
tetapi jihad pemikiran, jihad struktur, jihad melawan hegemoni sistem sekuler.
Jihad
Pemikiran: Pena yang Menyalakan Revolusi Tauhid
Sayyid Qutb tidak memulai dari medan perang, tetapi
dari medan kesadaran. Ia menegaskan bahwa dunia Islam telah terjatuh ke dalam jahiliyah
— sebuah sistem yang memusuhi hukum Allah, menuhankan logika manusia, dan
menjauhkan masyarakat dari tauhid yang murni.
Dalam bukunya Ma’alim fi ath-Thariq (Petunjuk
Jalan), ia menyampaikan bahwa tugas utama umat Islam adalah mengganti sistem
hidup yang rusak ini dengan sistem Allah. Di sinilah konsep jihad dalam
pemikiran Sayyid Qutb berbeda dari sekadar konflik bersenjata. Ia melihat jihad
sebagai jalan menyeluruh:
1.
Jihad melawan
sistem thaghut, dengan membongkar akar-akar kezaliman dalam
pemikiran dan struktur sosial.
2.
Jihad melawan
nafsu, dengan membersihkan diri dari cinta dunia dan
kebimbangan dalam iman.
3.
Jihad membangun
jamaah mu’minin, yang teguh memegang Al-Qur’an dan menyebarkan
risalah Islam di tengah masyarakat.
Jihad bukan sekadar perang. Ia adalah perjuangan
panjang — thariq thowil — dan butuh kesabaran, ilmu, dan kesiapan untuk
berkorban.
Penjara:
Universitas Jiwa dan Ladang Tinta Mujahid
Ketika Sayyid Qutb bergabung dengan Ikhwanul Muslimin
dan menjadi pemikir utama gerakan, pemerintah militer Mesir merasa terancam. Ia
ditangkap, disiksa, dan dijatuhi hukuman berat. Tapi penjara bukan tempat
kematian baginya. Justru dari balik jeruji itu ia melahirkan karya terbesar: Fi
Zhilalil Qur’an — “Di Bawah Naungan Al-Qur’an”.
Dalam kegelapan penjara, ia menulis dengan air mata
dan darah. Ia menggali makna ayat-ayat Allah dengan jiwa yang terpurnakan oleh
penderitaan. Setiap tafsir yang ia tulis bukan hanya penjelasan teks, tetapi
letupan ruh jihad, panggilan untuk bangkit.
Ia menulis bukan untuk sekadar memahamkan, tapi untuk menggerakkan.
Ia ingin agar setiap muslim menjadi mujahid — yang tidak tunduk pada hukum
selain hukum Allah, yang tidak takut pada penguasa zalim, yang tidak ragu
meniti jalan terjal menuju ridha-Nya.
Syahid: Puncak
Jihad di Tiang Gantung
Pada tahun 1966, Sayyid Qutb kembali dijatuhi hukuman
mati atas tuduhan makar. Ia ditawari pengampunan asal mau mengaku bersalah dan
memohon maaf. Tapi dengan tenang ia menolak.
“Jari yang setiap hari mengucap ‘La ilaha illallah’
takkan menulis satu huruf pun memohon belas kasihan dari manusia.”
Subuh hari, ia digiring ke tiang gantung. Tak ada
tangisan. Tak ada rintihan. Yang ada hanya wajah penuh cahaya dan hati yang
mantap menuju perjumpaan dengan Rabb-nya.
Ia pergi — tapi tidak hilang. Ia syahid — tapi hidup
dalam ingatan dan perjuangan umat. Darahnya menjadi tinta jihad. Kata-katanya
menjadi nyala obor di setiap dada mujahid.
Penutup:
Warisan Abadi Sang Mujahid
Sayyid Qutb mengajarkan pada dunia bahwa:
Ia hidup sebagai sastrawan, berubah menjadi pejuang
dakwah, dan wafat sebagai syuhada. Kisahnya adalah penegasan dari semboyan
Ikhwanul Muslimin yang dihidupinya dengan darah:
"Allah adalah tujuan kami, Rasulullah adalah
teladan kami, Al-Qur’an adalah pedoman kami, jihad adalah jalan kami, dan mati
di jalan Allah adalah cita-cita tertinggi kami."