- trending-title
- Kelelahan yang Tak Terlihat: Ketika Rasulullah Saw. Menyimpan Luka untuk Umatnya
Jika kita mencermati kisah nabi Ibrahim dan Ismail, tidak bisa tidak
akan terkait dengan seorang wanita bernama Hajar. Siapakah Hajar?Ia adalah
seorang wanita hitam bangsa Ethiopia
yang hina, budak sahaya Sarah -- istri Ibrahim. Di dalam kualifikasi sistem sosial
manusia saat itu, Hajar hampir tak punya makna. Bahkan ia tidak layak untuk
dicemburui oleh para wanita, hingga Sarah pun memilihnya untuk menjadi istri
kedua Ibrahim, sebagai upaya mencari keturunan. Ya, Allah mentaqdirkannya untuk menjadi istri
kedua Ibrahim, kemudian sekaligus menjadi ibunda Ismail, Hajar kemudian juga
dikenang sebagai ibu para nabi, karena dari keturunan Nabi ismail lahir pula
beberapa nabi, termasuk nabi penutup, Rasulullah Muhammad Saw.
Begitulah, di dalam kualifikasi sosial sistem tauhid, si budak hitam
yang hina akhirnya tampil sebagai wakil
kaum wanita sedunia, yang mendapat penghargaan yang luar biasa dari Allah.
Betapa tidak ? Dalam skenario Alah, yang selalu diperingati umat selanjutnya melalui pelaksanaan ibadah haji,
Hajar adalah satu-satunya ‘pemain’ wanita. Hajar, dalam peran itu, adalah
sebagai seorang ibu. Hajar -- yang atas
perintah Allah ditinggalkan oleh suaminya di padang tandus bersama bayinya, adalah
lambang ketawakalan dan ketaatan.
Hajar adalah seorang ibu yang penuh rasa tanggung jawab, seorang ibu
yang sarat dengan rasa cinta yang tulus. Seorang diri ia berjalan dan berlari
kian kemari, tanpa tempat berteduh, tanpa bantuan, sebatang kara bersama bayi
merahnya di gurun gersang. Tapi ia yakin, bahwa Allah tidak akan
menelantarkannya. Ia tawakal. Tetapi tawakalnya adalah tawakal yang tak pasif,
tak pasrah tanpa upaya. Hajar tidak
seperti mereka yang mengaku taqwa, kemudian duduk menunggu mu’jizat dari
langit. Ketika bekal airnya habis, dan air susunya pun mengering, Hajar tak
hanya berdoa menengadahkan tangan pada Allah. Tidak! Dipasrahkannya anaknya
pada Allah, lalu ia segera bangkit berlari. Ia berlari kian kemari , antara
bukit shofa dan marwa, demi memperoleh air, terutama untuk bayi Ismailnya.
Hajar tak pernah menyerah pada keadaan, Hajar tak pernah menyerah pada
penderitaan. Ia terus bergerak, ia terus berusaha. Hingga akhirnya, Allah
menganugerahkan air zam-zam padanya, pada Ismailnya.
Begitulah seterusnya, lembah gersang bernama Makkah itu akhirnya menjadi
pusat peradaban manusia, hingga kini. Dan Allah telah menetapkan seorang ibu
bernama Hajar, dengan energi ketaatan, energi ketaqwaan, dan energi ikhtiar
yang luar biasa, untuk memulai peradaban itu. Atau dengan kata lain, Allah
telah menunjukkan pada kita, betapa ibu memiliki peran yang luar biasa di dalam
pembentukan peradaban. Dan itu semua tentu saja harus diawali dengan paduan
ketaatan, ketaqwaan, sekaligus ikhtiar kemanusiaan.
Secara global ada 4 peran muslimah di dalam Islam,
yaitu :
1.
sebagai anak (menghormati dan mendoakan orangtua, mentaati sepanjang
tidak dalam kemaksiatan)
2.
sebagai istri (menghormati, melayani suami,
mengelola rumah tangga, mentaati suami
dalam koridor kebenaran)
3.
sebagai ibu (mengandung, melahirkan, menyusui,
mendidik , mengasuh anak )
4. sebagai anggota masyarakat (amar ma’ruf nahy munkar).
Dari keempat peran di atas, ada peran yang sifatnya biologis, sekuensial
sekaligus berkesinambungan, yakni
sebagai anak (begitu ia dilahirkan), sebagai istri (ketika telah
menikah), dan kemudian sebagai ibu (saat telah memiliki keturunan). Sementara
peran sebagai anggota masyarakat tidak terikat dengan tahap-tahap kehidupan. Esensi
dari peran ini adalah peran dalam upaya perbaikan masyarakat (amar makruf nahy
munkar), pada level dan bidang apapun sesuai dengan potensi yang dimiliki (Hadits
Rasul : “sampaikanlah walaupun hanya satu ayat”),
Idealnya, kesemua peran tersebut mesti difahami dan dimaknai secara
menyeluruh, terutama oleh muslimah. Di
dalam perspektif Islam, masing-masing peran ini juga hanya bermakna ketika
dilandasi oleh keikhlasan karena Allah, karena sesungguhnya semuanya adalah
wujud penghambaan (ibadah) pada Allah. Tanpa keikhlasan, sekuat apapun dan sepayah apapun seorang manusia memainkan
perannya, hasilnya adalah kehampaan, bahkan
kerugian. Seprofesional apapun peran manusia, jika tidak landasi
keikhlasan,
Memang pada realitanya, terutama ketika seorang muslimah telah berumah
tangga, tidak kesemua peran ini bisa dilakukan dengan maksimal secara serentak.
Ada sebagian yang memilih untuk fokus di wilayah domestik