- trending-title
- Kelelahan yang Tak Terlihat: Ketika Rasulullah Saw. Menyimpan Luka untuk Umatnya
Kaum
musyrik telah sepakat untuk menggempur Madinah, kali ini mereka berkumpul
dengan banyak pasukan. Inisiator perang tak lain adalah kaum Yahudi yang
semakin berang akan kegemilangan kaum muslim. Mereka menyambangi berbagai
kabilah untuk turut bertempur bersama mereka, tak terkecuali kaum kafir Quraisy
yang gencar permusuhannya terhadap Nabi Muhammad dan pengikutnya.
Berita ini terdengar oleh Rasulullah,
tanpa membuang waktu beliau mengumpulkan para sahabat untuk bermusyawarah
hingga akhirnya di putuskan untuk menggali parit atas usulan Salman al Farisi.
Usulan Salman pun dilaksanakan. Proyek dimulai dari sebelah utara Madinah,
antara dua tanah vulkanik Waqim dan Wabrah. Alasannya adalah karena di samping
dijejali bangunan, setiap sisi Madinah juga dikelilingi tanah vulkanik dan
kebun kurma kecuali sebelah utara.
Rasulullah menetapkan setiap sepuluh
orang menggali lubang empat puluh hasta. Setiap sisi parit diserahkan pada satu
kelompok Muhajirin atau Ansar sehingga keduanya saling berlomba. Khusus Salman
al Farisi, ia bekerja sendirian. Semangatnya luar bisa karena kerjanya
sebanding dengan sepuluh orang.
Saat penggalian parit, beberapa
sahabat Rasulullah melapor bahwa ada sebongkah batu besar yang sulit untuk
dipecahkan. Nabi pun turun tangan dan mengambil cangkul. Dan saat mengangkat
cangkul tersingkaplah perut nabi yang memperlihatkan ada 2 buah batu yang di
selipkan di antara perut dan ikat pinggang nabi yang membuat para sahabat
terenyuh karena memahami betapa laparnya nabi saat itu sementara sahabat yang
lain hanya mengganjal perutnya dengan 1 batu. Lalu kemudian nabi mengayunkan
cangkulnya dan Sekali Ayun, batu itu
mengeluarkan kilat dan pecahlah sepertiga batu. Lalu nabi mengucapkan;
“Allahu Akbar! Kunci-kunci Suriah
diberikan kepadaku, demi Allah, aku dapat melihat menara-menaranya yang merah
dari sini”
Untuk kali kedua Nabi mengayunkan
cangkulnya. Batu itu pecah lagi sepertiganya dan mengeluarkan kilat.
“Allahu Akbar! Kunci-kunci Persia diberikan kepadaku, demi Allah, aku dapat
melihat kota-kota, melihat menaranya yang putih dari sini.”
Nabi mengayunkan lagi cangkulnya.
Sisa batu itu pecah, tanah liat dibawahnya kembali berkilat.
“Allahu Akbar! Kunci-kunci Yaman diberikan kepadaku, demi Allah, aku dapat
melihat pintu-pintu Shan’a dari sini.”
Para sahabat serempak bertakbir.
Mereka bersorak-sorak mendapat kabar gembira tersebut lalu berseru, “Janji itu
pasti benar dan membawa kebaikan!” Hal ini terbukti setelah beberapa
peperangan, Suriah, Persia, Yaman berhasil ditaklukan oleh kaum muslimin.
Meninggalkan persiapan kaum muslimin
saat perang Khandaq. Kita beralih pada Abdullah bin Amr bin al-Ash yang
ditanya, “Kota manakah yang akan dibuka terlebih dahulu, Konstantinopel atau
Rumiyah?”
Abdullah meminta kotak dengan
lingkaran-lingkaran miliknya. Kemudian dia mengeluarkan kitab lalu menjawab,
“Ketika kita sedang menulis di sekitar Rasulullah, beliau ditanya, Dua kota ini
manakah yang dibuka lebih dulu, Konstantinopel atau Rumiyah? Rasul menjawab,
Kota Heraklius dibuka lebih dahulu, yaitu Konstantinopel.
Ada pembelajaran yang bisa kita petik
dari kisah diatas. Sungguh apa yang Rasulullah ucapkan adalah janji yang pasti
terjadi meski banyak orang yang mengkerdilkannya. Ia merupakan Bisyarah yang
kelak mewujud dan memperkuat kedudukan kaum muslim serta mengangkat derajat
mereka. Suriah, Yaman, Persia lalu Konstantinople telah ditaklukan, kini
Rumiyah (Roma) menunggu Anda untuk menaklukannya. Bangkitlah wahai generasi
pembebas, kota Roma menantimu untuk dibebaskan!