- trending-title
- Kelelahan yang Tak Terlihat: Ketika Rasulullah Saw. Menyimpan Luka untuk Umatnya
Sebagai seorang muslim, sudah
sepantasnya kita mengenal dengan baik siapa Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi
wasallam. Dengan mengenal Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, berarti
seorang muslim bisa meneladaninya dengan baik.
Manusia diciptakan oleh Allah Ta’ala
dengan membawa fitrah (naluri). Fitrah yang dianugerahkan
Allah Ta’ala kepada manusia di antaranya,
Pertama, fitrah
terhadap wujudul khaliq (eksistensi Pencipta).
Syeikh Mahmud Syaltut dalam uraiannya
tentang adanya naluri bertuhan dalam diri manusia, antara lain menerangkan,
“Bilamana manusia sedang dalam kesulitan yang amat sangat, yang telah mengatasi
pendengaran, memecahkan pemikiran dan menghabiskan daya upaya, maka dalam
keadaan seperti demikian ia tidak akan mendapai jalan keluar dari kesulitan
yang sedang dihadapinya itu, kecuali menyerah kepada Allah, meminta pertolongan
dari Kekuasaan, Petunjuk dan RahmatNya.” Firman Allah dalam Al-Quran,
هُوَ
الَّذِي يُسَيِّرُكُمْ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ حَتَّى إِذَا كُنْتُمْ فِي
الْفُلْكِ وَجَرَيْنَ بِهِمْ بِرِيحٍ طَيِّبَةٍ وَفَرِحُوا بِهَا جَاءَتْهَا رِيحٌ
عَاصِفٌ وَجَاءَهُمُ الْمَوْجُ مِنْ كُلِّ مَكَانٍ وَظَنُّوا أَنَّهُمْ أُحِيطَ
بِهِمْ دَعَوُا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ لَئِنْ أَنْجَيْتَنَا مِنْ
هَذِهِ لَنَكُونَنَّ مِنَ الشَّاكِرِينَ
“Dialah Tuhan yang menjadikan kamu
dapat berjalan di daratan, (dan berlayar) di lautan. Sehingga ketika kamu
berada di dalam kapal, dan meluncurlah (kapal) itu membawa mereka (orang-orang
yang ada di dalamnya) dengan tiupan angin yang baik, dan mereka bergembira
karenanya; tiba-tiba datanglah badai dan gelombang menimpanya dari segenap
penjuru, dan mereka mengira telah terkepung (bahaya), maka mereka berdoa dengan
tulus ikhlas kepada Allah semata. (Seraya berkata), “Sekiranya Engkau
menyelamatkan kami dari (bahaya) ini, pasti Kami termasuk orang-orang yang
bersyukur.” (QS. Yunus, 10: 22).
Jadi, manusia adalah makhluk yang
asal kejadiannya bertuhan dan mengakui ada kekuasaan-Nya. Tuhan yang menjadikan
alam semesta ini, itulah naluri dan fitrah manusia. Bahkan dalam Al-Quran
disebutkan,
وَإِذْ
أَخَذَ رَبُّكَ مِنْ بَنِي آدَمَ مِنْ ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ
عَلَى أَنْفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ قَالُوا بَلَى شَهِدْنَا أَنْ تَقُولُوا
يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَذَا غَافِلِينَ
“Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu
mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil
kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): ‘Bukankah Aku ini Tuhanmu?’
Mereka menjawab: ‘Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi’. (Kami lakukan
yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: ‘Sesungguhnya
kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan).’” (QS.
Al-A’raf, 7: 172).
Tersirat dari ayat ini bahwa manusia
sejak ia masih di alam ruh telah mengakui Allah sebagai Tuhannya.
Kedua, fitrah
untuk ibadatul khaliq (menyembah/beribadah kepada Sang Pencipta).
Penjelasan point kedua ini pun dapat dijelaskan dengan penjelasan point pertama
di atas. Salah satu bukti yang menunjukkan bahwa ibadah adalah bagian dari
fitrah manusia, adalah sebagaimana yang kita lihat dalam sejarah perkembangan
manusia itu sendiri. Manakala belum sampai kepada mereka para Nabi dan Rasul
yang diutus Allah Ta’ala atau ajaran yang dibawa oleh para Nabi dan Rasul,
maka manusia selalu beribadah atau menyembah “tuhan” yang mereka yakini
keberadaannya dengan interpretasi masing-masing. Ada yang menyembah batu,
pohon kayu, berhala atau patung yang mereka buat sendiri, dan lain sebagainya.
Ketiga, fitrah
terhadap al-hayatul munadzamah (kehidupan yang teratur). Oleh karena
itu manusia sebagai mahluk individu maupun sosial, dengan dorongan fitrahnya
selalu berupaya menata kehidupannya. Ada aturan-aturan dan norma-norma yang
dibuat; ada pemimpin dan yang dipimpin; ada ketetapan sanksi bagi mereka yang
melanggar, dan atau sejenisnya.
Ketiga fitrah manusia tersebut di
atas, membutuhkan bimbingan Allah Ta’ala. Karena tanpa bimbingan-Nya
manusia akan terjerumus pada kesesatan. Oleh karena itu, dengan kasih
sayang-Nya, Allah Ta’ala telah mengutus para Rasul untuk memberikan
petunjuk yang benar agar mereka ma’rifatul khaliq (mengenal
Penciptanya).
وَمَا
أَرْسَلْنَا مِنْ رَسُولٍ إِلا بِلِسَانِ قَوْمِهِ لِيُبَيِّنَ لَهُمْ فَيُضِلُّ
اللَّهُ مَنْ يَشَاءُ وَيَهْدِي مَنْ يَشَاءُ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ
“Dan Kami tidak mengutus seorang
rasul pun, melainkan dengan bahasa kaumnya, agar dia dapat memberi penjelasan
kepada mereka..” (QS. Ibrahim, 14: 4)
وَلَقَدْ
بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا
الطَّاغُوتَ
“Dan sungguh, Kami telah mengutus
seorang rasul untuk setiap umat (untuk menyerukan), “Sembahlah Allah (saja),
dan jauhilah Thaghut…” (QS. An-Nahl, 16: 36).
Melalui bimbingan para rasul, manusia
pun akan mengenal minhajul hayah (pedoman hidup).
Allah Ta’ala berfirman,
كَمَا
أَرْسَلْنَا فِيكُمْ رَسُولا مِنْكُمْ يَتْلُو عَلَيْكُمْ آيَاتِنَا
وَيُزَكِّيكُمْ وَيُعَلِّمُكُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَيُعَلِّمُكُمْ مَا
لَمْ تَكُونُوا تَعْلَمُونَ
“Sebagaimana (Kami Telah
menyempurnakan nikmat Kami kepadamu) Kami telah mengutus kepadamu Rasul di
antara kamu yang membacakan ayat-ayat Kami kepada kamu dan mensucikan kamu dan
mengajarkan kepadamu Al Kitab dan Al-Hikmah, serta mengajarkan kepada kamu apa
yang belum kamu ketahui.” (QS. Al-Baqarah, 2: 151).
Dengan ma’rifatul
khaliq (mengenal Pencipta) dan minhajul hayah (pedoman hidup)
yang benar itulah manusia dapat melaksanakan al-‘ibadatus
shahihah (ibadah yang benar).
Allah Ta’ala berfirman,
فَأَمَّا
الَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَاعْتَصَمُوا بِهِ فَسَيُدْخِلُهُمْ فِي رَحْمَةٍ
مِنْهُ وَفَضْلٍ وَيَهْدِيهِمْ إِلَيْهِ صِرَاطًا مُسْتَقِيمًا
“Adapun orang-orang yang beriman
kepada Allah dan berpegang teguh kepada (agama)-Nya, maka Allah akan memasukkan
mereka ke dalam rahmat dan karunia dari-Nya (surga), dan menunjukkan mereka
jalan yang lurus kepada-Nya.” (QS. An-Nisa, 4: 175).
Dalam ayat lain, Allah Ta’ala
berfirman,
يَهْدِي
بِهِ اللَّهُ مَنِ اتَّبَعَ رِضْوَانَهُ سُبُلَ السَّلامِ وَيُخْرِجُهُمْ مِنَ
الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ بِإِذْنِهِ وَيَهْدِيهِمْ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ
“Dengan kitab itulah Allah memberi
petunjuk kepada orang yang mengikuti keridhaan-Nya ke jalan keselamatan, dan
(dengan kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang itu dari gelap gulita kepada
cahaya dengan izin-Nya, dan menunjukkan ke jalan yang lurus.” (QS.
Al-Maidah, 5: 16).
Semoga kita selalu diberi Allah
Ta’ala kekuatan, kemampuan, hidayah dan untuk selalu meneladani Nabi Muhammad
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, sehingga hidup kita tidak akan
tersesat dunia akhirat, wallahu A’lam.