- trending-title
- Kelelahan yang Tak Terlihat: Ketika Rasulullah Saw. Menyimpan Luka untuk Umatnya
Ketika melintasi sebuah daerah, Umar melihat sebuah biara tua yang berdiri kokoh di atas bukit. Di dalamnya, tampak seorang rahib tua yang tengah beribadah dengan penuh kesungguhan. Dari balik jendela kecil biara itu, Umar mengamati gerak-gerik sang rahib.
Tubuh rahib itu tampak sangat kurus, wajahnya pucat, dan matanya cekung. Ia mengenakan pakaian sederhana yang sudah lusuh dan penuh tambalan. Sementara itu, ia terus bersujud dan berdoa dengan penuh kekhusyukan, seolah dunia di sekitarnya tak lagi berarti. Tak ada tanda-tanda kemewahan dalam kehidupannya. Ia hidup dalam kesederhanaan, hanya berfokus pada ibadah yang ia yakini sebagai jalan keselamatan.
Melihat pemandangan itu, Umar bin Khattab tiba-tiba menangis. Air matanya jatuh, membasahi janggutnya. Sahabat-sahabat yang menyertainya heran melihat sang khalifah yang gagah dan tegas itu meneteskan air mata.
Salah seorang dari mereka pun bertanya,
"Wahai Amirul Mukminin, apa yang membuatmu menangis? Apakah engkau bersedih melihat keadaannya?"
Umar menghela napas panjang, lalu dengan suara yang berat ia menjawab,
"Aku menangis bukan karena kemiskinannya atau tubuhnya yang kurus, tetapi karena aku teringat firman Allah: ‘Wajah-wajah yang bekerja keras lagi kepayahan, memasuki api yang sangat panas’ (QS. Al-Ghashiyah: 3-4). Aku melihat betapa tekunnya rahib ini beribadah, tetapi ia beribadah bukan di atas petunjuk yang benar. Ia bersusah payah di dunia, tetapi di akhirat nanti ia justru akan menemui kesengsaraan."
Para sahabat yang mendengarnya ikut terdiam. Mereka memahami maksud Umar. Rahib itu telah mengorbankan segalanya untuk ibadahnya—waktu, tenaga, bahkan kebahagiaan dunia—tetapi tanpa mengenal tauhid yang benar, semua itu bisa menjadi sia-sia.
Umar pun melanjutkan,
"Lihatlah dirinya. Ia telah mengorbankan dunianya, meninggalkan kesenangan dan keindahan dunia, menghindari makanan yang lezat, dan menahan diri dari segala kemewahan. Ia melakukannya karena berharap mendapatkan surga. Tetapi betapa malangnya jika setelah semua pengorbanan ini, yang ia dapati justru neraka hanya karena ia tidak mengenal Allah dengan benar!"
Kesedihan Umar semakin mendalam. Ia menyadari bahwa banyak orang yang sungguh-sungguh dalam keyakinan mereka, tetapi ketidaktahuan akan kebenaran justru membuat usaha mereka tidak membuahkan hasil. Umar ingin sekali menyampaikan Islam kepada rahib itu, ingin menyelamatkannya dari keletihan yang sia-sia.
Namun, Umar juga tahu bahwa hidayah berada di tangan Allah. Ia tidak bisa memaksa siapa pun untuk beriman. Yang bisa ia lakukan hanyalah mendoakan dan berharap agar Allah membimbing orang-orang yang ikhlas dalam pencarian mereka.
Setelah beberapa saat memandangi sang rahib, Umar pun melanjutkan perjalanannya. Namun, hatinya tetap terasa berat. Pemandangan itu menjadi pengingat baginya bahwa Islam adalah agama yang membawa kebenaran dan rahmat bagi seluruh manusia.
Semoga kita semua diberikan petunjuk untuk tetap berada di atas jalan yang benar, sehingga usaha dan ibadah kita tidak menjadi sia-sia di hadapan Allah. Aamiin.